Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Asidosis Respiratorik - Intervensi

Asidosis respiratorik adalah gangguan asam-basa yang ditandai dengan menurunnya ventilasi alveolar dan dimanifestasikan oleh hiperkalemia atau tekanan karbondioksida arterial parsial (Paco2) lebih besar dari 45 mm Hg dan bisa akut akibat kegagalan mendadak pada ventilasi maupun kronis seperti pada penyakit pulmoner jangka-panjang. Prognosisnya tergantung pada keparahan gangguan mendasar dan pada kondisi pasien secara umum. 

Hipoventilasi mengganggu ekskresi karbondioksida yang diproduksi melalui metabolisme. Kemudian, karbondioksida yang tertahan bergabung dengan air dan membentuk asam karbonat yang berlebihan, sehingga menurunkan pH darah. Akibatnya, konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh, yang merefleksikan keasaman secara langsung, naik.

Asuhan Keperawatan Asidosis Respiratorik
Image by Grogono on wikimedia.org

Penyebab 

  • Obstruksi jalan napas 
  • Bronkitis kronis 
  • Penyakit pulmoner obstruktif kronis (PPOK) / (chronic obstructive pulmonary disease - COPD) 
  • Pneumonia ekstensif 
  • Penyakit paru-paru parenkimal 
  • Edema pulmoner 
  • Sindrom distres respiratorik parah 

Faktor predisposisi 

  • Trauma sistem saraf pusat (central nervous system - CNS): cedera medular (bisa merusak kendali ventilatorik) 
  • Alkalosis metabolik kronis (menyebabkan penurunan ventilasi alveolar karena mencoba menormalkan pH)
  • Obat-obatan: opioid, anestetik, hipnotik, dan sedatif (mengurangi sensitivitas pusat respiratorik) 
  • Penyakit neuromuskular (misalnya miastenia gravis, sindrom Gullain-Barre, dan poliomielitis): otot respiratorik tidak mampu merespons kendali respiratorik dengan tepat, sehingga menurunkan ventilasi alveolar. 

Tanda dan gejala 

Keabnormalan kardiovaskular 

  • Aritmia atrial dan ventrikular 
  • Hipotensi disertai vasodilasi (denyut nadi meloncat-loncat dan periferi hangat) (pada asidosis parah) 
  • Takikardia 

Gangguan CNS 

  • Aprehensi 
  • Koma 
  • Konfusi 
  • Dispnea dan takipnea, disertai papiledema dan refleks yang tertekan 
  • Hipoksemia 
  • Gelisah 
  • Mengantuk, disertai gemetar yang tegas atau mengepak-ngepak (asteriksis) 

Uji diagnostik 

  • Analisis gas darah arterial (artertal blood gas — ABG) memastikan asidosis respiratorik.
  • PaCO2 melebihi kadar normal sebesar 45 mm Hg, pH di bawah kadar normal yang berkisar dari 7,35 sampai 7,45, dan kadar bikarbonat normal saat stadium akut tetapi naik saat stadium kronis. 
  • Sinar-X dada, computed tomography scan, atau uji fungsi pulmoner bisa membantu mendiagnosis penyakit paru-paru. 

Penanganan 

  • Kondisi mendasar yang menyebabkan hipoventilasi alveolar harus dideteksi.
  • Secara signifikan, menurunnya ventilasi alveolar bisa membutuhkan ventilasi mekanis sampai kondisi mendasar bisa diatasi.
  • Bagi pasien yang menderita COPD, penanganannya meliputi bronkodilator, oksigen, kortikosteroid, dan umumnya antibiotik. Kenaikan kadar PaCO2 bisa tetap terjadi walaupun penanganan sudah optimal.
  • Terapi obat diperlukan pasien yang mengalami kondisi misalnya miastemia gravis.
  • Benda asing harus dibuang dari jalan napas.
  • Antibiotik diberikan untuk pneumonia.
  • Dialisis diperlukan untuk menangani toksisitas obat.
  • Alkalosis metabolik harus dikoreksi.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Secara saksama, pantau pH darah pasien. Jika turun sampai di bawah 7,15, ia bisa mengalami deteriorasi CNS dan kardiovaskular berat, sehingga membutuhkan natrium bikarbonat I.V. 
  • Pemberian natrium bikarbonat sebaiknya hanya dilakukan di saat paling kritis karena bisa menyebabkan pemburukan paradoksikal dari efek CNS.
  • Waspadai perubahan kritis pada fungsi respiratorik, CNS, dan kardiovaskular pasien. Secara saksama, lihat juga berbagai nilai ABG, dan pantau status elektrolit. Pertahankan kecukupan hidrasi.
  • Pertahankan kepatenan jalan napas dan beri kelembaban yang cukup jika asidosis membutuhkan ventilasi mekanis. Lakukan pengisapan trakeal secara teratur dan fisioterapi dada secara giat bila perlu. Terusalah memantau peralatan ventilator dan status respiratorik pasien. 
  • Secara saksama, pantau adakah tanda asidosis respiratorik pada pasien yang menderita COPD dan retensi karbondioksida kronis. Beri juga oksigen beraliran rendah, dan secara saksama pantaulah pasien jika ia diberi opioid atau sedatif. 
  • Jika pasien diberi anestetik, minta ia membalikkan badannya, melakukan spirometer insentif, dan batuk, dan seringkali melakukan latihan bernapas-dalam untuk mencegah serangan asidosis respiratorik.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Asidosis Respiratorik - Intervensi"