Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Anemia Pernisiosa - Intervensi

Anemia pernisiosa (juga disebut anemia Addison) merupakan anemia megaloblastik dan ditandai dengan turunnya produksi asam hidroklorik oleh lambung dan defisiensi faktor intrinsik (IF), yaitu substansi yang normalnya disekresi oleh sel parietal mukosa gastrik dan sangat penting untuk absorpsi vitamin B12. 

Defisiensi vitamin B12, menyebabkan keabnormalan neurologis, gastrik, dan intestinal serius. Anemia pernisiosa yang tidak ditangani bisa menyebabkan ketidakmampuan neurologis permanen dan kematian. 

Asuhan Keperawatan Anemia Pernisiosa
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Penyebab 

  • Genetik 
  • Respons autoimun turun-temurun 
  • Pembedahan, misalnya gastrektomi 

Tanda dan gejala 

  • Sklera berwarna kuning 
  • Bibir, gusi, dan lidah terlihat jelas tidak mengandung darah 
  • Mati rasa dan kesemutan di ekstremitas 
  • Kulit berwarna pucat sampai kuning terang 
  • Lidah sakit 
  • Suseptibilitas terhadap infeksi, terutama traktus genitourinari 
  • Lemah 

Tanda dan gejala GI 

  • Anoreksia 
  • Konstipasi 
  • Diare 
  • Flatulensi 
  • Pendarahan gingival 
  • Inflamasi lidah 
  • Berat badan turun 

Tanda dan gejala sistem saraf pusat 

  • Indra perasa berubah 
  • Pandangan berubah (diplopia, pandangan kabur) 
  • Ataksia 
  • Delirium 
  • Depresi 
  • Rasa pemosisian terganggu 
  • Gangguan pada gerakan jari tangan yang tegas 
  • Impotensi (pada pria) 
  • Iritabilitas 
  • Kurangnya koordinasi 
  • Pening 
  • Kontrol usus dan kandung kemih lenyap 
  • Neuritis 
  • Atrofi otot optik 
  • Mati rasa dan parestesia periferal 
  • Memori tidak bagus 
  • Tanda Babinski dan Romberg positif 
  • Tinitus 
  • Ekstremitas lemah 

Tanda dan gejala kardiovaskular 

  • Dispnea 
  • Letih 
  • Pening 
  • Ortopnea 
  • Palpitasi; detak prematur 
  • Takikardia 
  • Lemah 
  • Tekanan denyut nadi melebar 

Uji diagnostik 

  • Aspirasi sumsum tulang memperlihatkan hiperplasia eritroid (sumsum tulang merah yang penuh), disertai bertambah banyaknya megaloblas namun sedikit sel darah merah (red blood cell — RBC) yang berkembang normal.
  • Analisis gastrik menunjukkan tidak adanya asam hidroklorik bebas akibat injeksi histamin atau pentagastrin.
  • Uji Schilling menunjukkan ekskresi radioaktif B12 kurang dari 3% (normalnya adalah 7% dalam 24 jam melalui urin). Pada anemia pernisiosa, vitamin tetap tidak diabsorpsi dan dikeluarkan bersama tinja. Jika uji Schilling diulang dengan ditambahkan IF, uji menunjukkan ekskresi normal vitamin B12.
  • Antibodi IF dan asntibodi sel antiparietal.
  • Hasil studi darah yang menunjukkan anemia pernisiosa meliputi :
    • Kadar hemoglobin (hb) turun ( 4 sampai 5 g/dl) dan jumlah RBC berkurang
    • Rata-rata volume korpuskular naik dari 120/jul) karena tiap RBC yang lebih besar dari normal mengandung kenaikan jumlah Hb; rata-rata konsentrasi Hb korpuskular juga naik 
    • Jumlah sel darah putih dan keping darah sedikit; keping darah berukuran besar dan mengalami malformasi 
    • Kadar vitamin B12-assay kurang dari 0,1 mcg/ml
    • Kadar dehidrogenase laktat serum naik. 

Penanganan 

  • Penggantian vitamin B12I.M. sejak dini bisa menyembuhkan anemia pernisiosa dan bisa mencegah kerusakan neurologis permanen. Vitamin B12, parenteral yang awalnya diberikan dalam dosis tinggi akan menyebabkan regenerasi RBC dengan cepat. Penggantian zat besi konkomitan diperlukan karena regenesari sel yang cepat akan meningkatkan kebutuhan zat besi pasien. 
  • Setelah kondisi pasien membaik, dosis vitamin B12 bisa dikurangi sampai kadar pemeliharaan dan diberikan setiap bulan. Karena injeksi semacam ini harus dilanjutkan seumur hidup, pasien sebaiknya mempelajari cara melakukan injeksi sendiri. 
  • Pasien perlu beristirahat di ranjang sampai kadar Hb-nya naik. 
  • Jika kadar Hb rendah dan membahayakan, pasien bisa memerlukan transfusi darah. 
  • Gagal jantung ditangani dengan digoxin, diuretik, dan makanan rendah-natrium.
  • Antibiotik membantu melawan infeksi yang menyertai.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Beri pengetahuan pada pasien dan keluarganya mengenai terapi penggantian vitamin B12 seumur hidup.
  • Jika pasien menderita anemia parah, susun rencana aktivitas, waktu istirahat, dan uji diagnostik yang diperlukan untuk menyimpan energi. Seringkali pantaulah denyut nadi; takikardia mengindikasikan bahwa aktivitas pasien terlalu berat. 
  • ingatkan pasien untuk berjaga-jaga melawan infeksi, dan minta ia segera melaporkan tanda infeksi, terutama infeksi traktus respiratorik dan kencing, karena kondisi pasien yang melemah bisa meningkatkan suseptibilitas. 
  • Beri makanan yang seimbang dengan baik, termasuk makanan kaya vitamin B12 (daging, hati, ikan, telur, dan susu). Beri makanan kecil di sela-sela jadwal makan, dan minta keluarga pasien membawakan makanan kesukaan pasien dari rumah.
  • Karena sakit di mulut dan telinga menyebabkan pasien mengalami kesakitan saat makan, mintalah penyedia makanan tidak memberi makanan yang menyebabkan iritasi pada pasien. Jika gejala ini membuat pasien sulit bicara, sediakan alas tulis dan pensil atau alat bantuan lain untuk mempermudahnya berkomunikasi secara nonverbal, dan jelaskan kondisi ini pada keluarganya. Beri pencuci mulut cair atau, jika kondisi pasien parah, seka mulut pasien dengan air keran atau larutan garam yang hangat.
  • Pada penderita defisit sensorik, ingatkan untuk tidak menggunakan alas pemanas karena bisa menyebabkan luka bakar.
  • Jika pasien mengalami inkontinensi, lakukan rutinitas usus dan kandung kemih secara teratur. Setelah pasien pulang, susun jadwal kunjungan perawat dan buatlah penyesuaian seperlunya.
  • Jika kerusakan neurologis menyebabkan masalah tingkah laku, seringkali kajilah status mental dan neurologis; bila perlu, beri obat penenang sesuai perintah, dan bila perlu, gunakan pengekang yang lembut saat malam hari.
  • Tekankan pada pasien bahwa penggantian vitamin B12 bukanlah penyembuhan permanen dan bahwa injeksi ini harus dilanjutkan seumur hidup, walaupun gejala reda. 
  • Untuk mencegah anemia pernisiosa, tekankan pentingnya suplemen vitamin B12 untuk pasien yang pernah menjalami reseksi gastrik atau orang yang menjalani diet vegetarian yang ketat.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Anemia Pernisiosa - Intervensi"