Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mengenal Anafilaksis, Reaksi Alergi Yang Bisa Membahayakan Nyawa

Reaksi anafilaksis adalah reaksi alergi yang tiba-tiba , bersifat sistemik, berpotensi parah, dan mengancam jiwa. Reaksi anafilaksis sering dimulai dengan perasaan tidak nyaman lalu diikuti dengan sensasi kesemutan dan pusing.  

Pada tahap selanjutnya gejala akan semakin parah seperti gatal-gatal, bengkak, mengi dan kesulitan bernapas, pingsan, dan gejala alergi lainnya. Reaksi ini dapat dengan cepat mengancam nyawa dan membutuhkan perawatan darurat segera.

Seperti reaksi alergi lainnya, reaksi anafilaksis biasanya tidak terjadi setelah paparan pertama terhadap alergen (zat yang memicu reaksi alergi),  tetapi dapat terjadi setelah seseorang terpapar alergen lagi untuk kedua kalinya.

Reaksi Anafilaksis
Gambar by Mikael Häggström from: wikimedia.org

Namun, banyak orang tidak mengingat paparan  pertama.  Jenis Alergen apa pun yang menyebabkan reaksi anafilaksis pada seseorang,  kemungkinan besar menyebabkan reaksi tersebut saat orang tersebut terpapar lagi.

Penyebab

Reaksi anafilaksis paling sering disebabkan oleh hal-hal berikut berikut ini, antara lain :

  • Obat-obatan, terutama  golongan antibiotik seperti  penisilin.
  • Sengatan serangga atau hewan lain
  • Makanan tertentu seperti telur, seafood, dan kacang-kacangan
  • Getah pohon tertentu
  • Zat lain yang menjadi alergen untuk orang tertentu.

Reaksi Anafilaktoid

Reaksi anafilaktoid menyerupai reaksi anafilaksis. Namun, reaksi anafilaktoid, tidak seperti reaksi anafilaksis, dapat terjadi setelah paparan pertama suatu zat.

Selain itu, reaksi anafilaktoid bukanlah reaksi alergi karena imunoglobulin E (IgE),  antibodi yang terlibat dalam reaksi alergi, tidak menyebabkan reaksi tersebut. Sebaliknya, reaksi tersebut disebabkan langsung oleh zat tersebut.

Pemicu paling umum dari reaksi anafilaktoid antara lain:

  • Zat yang mengandung yodium yang dapat dilihat pada sinar-X (agen kontras radiopak)
  • Aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID)
  • Opioid
  • Antibodi monoklonal (antibodi buatan yang menargetkan dan menekan bagian tertentu dari sistem kekebalan)
  • Olahraga

Jika memungkinkan, dokter menghindari penggunaan agen kontras radiopak pada orang yang memiliki reaksi anafilaktoid terhadap agen tersebut. Namun, beberapa kelainan tidak dapat didiagnosis tanpa agen kontras. Dalam kasus seperti itu, dokter menggunakan agen kontras yang cenderung tidak menyebabkan reaksi. Selain itu, obat yang memblokir reaksi anafilaktoid, seperti prednison dan diphenhydramine, terkadang diberikan sebelum agen kontras tertentu disuntikkan.

Gejala Anafilaksis

Reaksi anafilaksis biasanya dimulai dalam 15 menit setelah terpapar alergen. Gejala berkisar dari ringan hingga parah, tetapi setiap orang biasanya memiliki gejala yang sama setiap saat. Gejala yang biasanya muncul antara lain :

  • Jantung berdetak dengan cepat
  • Merasa tidak nyaman dan gelisah 
  • Tekanan darah bisa turun atau hipotensi,  menyebabkan pingsan  dan bisa menjadi sangat rendah yang menyebabkan syok. 
  • Gejala lain seperti  pusing, gatal dan kulit memerah, batuk, pilek, bersin  dan pembengkakan jaringan di bawah kulit (angioedema). 
  • Bisa mengalami kesulitan bernafas dan mengi yang terjadi akibat  tenggorokan atau jalan nafas  menyempit atau menjadi bengkak. 
  • Bisa mengalami mual, muntah, kram perut, dan diare.

Reaksi anafilaksis dapat berkembang sangat cepat menyebabkan pingsan, gangguan napas, kejang, dan kehilangan kesadaran dalam 1 hingga 2 menit. Reaksi ini bisa berakibat  fatal dan harus segera diberikan penangananan gawat darurat.

Gejala dapat kambuh 4 hingga 8 jam setelah terpapar alergen atau setelahnya. Gejala seperti itu biasanya lebih ringan daripada awalnya, tetapi bisa lebih parah atau fatal.

Diagnosa

  • Anamnese dan pemeriksaan fisik oleh dokter atau petugas kesehatan
  • Pemeriksaan  darah atau urine

Diagnosis reaksi anafilaksis biasanya jelas berdasarkan gejala seperti berikut:

  • Gejala syok  seperti tekanan darah rendah, kebingungan, kulit dingin dan berkeringat, serta denyut nadi lemah dan cepat.
  • Gejala pernapasan seperti kesulitan bernapas, suara terengah-engah saat bernapas, dan mengi.
  • Dua atau lebih gejala lain dari kemungkinan anafilaksis seperti angioedema, gatal-gatal, dan mual atau gejala pencernaan lainnya.
  • Karena gejalanya dapat dengan cepat mengancam nyawa, pengobatan harus segera dimulai tanpa menunggu tes dilakukan.
  • Jika gejalanya ringan, diagnosis dapat dipastikan dengan tes darah atau urine, yang mengukur kadar zat yang diproduksi selama reaksi alergi. Namun, tes ini biasanya tidak diperlukan.

Pengobatan

  • Pemberian Epinefrin 
  • Pemberian Oksigen
  • Jika perlu  diberikan cairan  secara intravena
  • Pemberian Antihistamin dan obat lain

Dalam keadaan darurat, dokter atau petugas akan segera memberikan epinefrin melalui suntikan di bawah kulit, ke otot, atau kadang ke pembuluh darah atau tulang.

Tekanan darah rendah seringkali kembali normal setelah diberikan epinefrin. Jika tidak, cairan diberikan secara intravena untuk meningkatkan volume di pembuluh darah. Terkadang orang juga diberikan obat yang menyebabkan pembuluh darah menyempit atau vasokonstriktor. Dengan demikian membantu meningkatkan tekanan darah.

Antihistamin diberikan secara intravena sampai gejala hilang. Jika diperlukan, beta-agonis yang dihirup (seperti albuterol) diberikan untuk memperlebar saluran nafas, mengurangi mengi, dan membantu pernapasan. Kortikosteroid diberikan untuk membantu mencegah gejala berulang beberapa jam kemudian.

Pencegahan

Menghindari alergen adalah pencegahan terbaik. Orang yang alergi terhadap alergen tertentu yang tidak dapat dihindari seperti sengatan serangga  dapatmencoba imunoterapi alergen jangka panjang.

Orang yang mengalami reaksi ini harus selalu membawa jarum suntik epinefrin yang disuntikkan sendiri. Jika mereka menemukan pemicu seperti  disengat serangga atau jika mulai menunjukkan gejala, mereka harus segera menyuntik sendiri. 

Biasanya perawatan ini menghentikan reaksinya untuk sementara. Meskipun demikian, setelah reaksi alergi, orang tersebut harus pergi ke unit gawat darurat rumah sakit, agar dapat dipantau secara ketat dan pengobatan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. 

Jika memungkinkan, pada orang-orang dengan alergi sebaiknya memakai gelang peringatan medis yang berisi daftar alergi mereka.


Referensi:

  1. Peter J. Delves. 2020. Anaphylactic Reaction (Anaphylaxis). University College London. MSD Manual Consumer Version.
  2. 2.April Kahn. 2018. Anaphylaxis. Health Line 
  3. 3.Carol DerSarkissian.2020.  Allergies and Anaphylaxis. Web MD

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Mengenal Anafilaksis, Reaksi Alergi Yang Bisa Membahayakan Nyawa"