Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Acne vulgaris atau Jerawat

Jerawat adalah kondisi kulit umum yang menyerang orang-orang dari segala usia, meskipun paling sering terlihat pada masa remaja dengan dimulainya masa pubertas. Ini adalah kondisi kulit yang paling umum di seluruh dunia.

Acne vulgaris atau jerawat merupakan gangguan inflamatorik atau peradanagan pada kelenjar sebasea dan masalah kulit yang paling umum dialami remaja saat memsuki masa pubertas, namun jerawat juga bisa muncul saat penderita berusia lebih muda. 

Jerawat mempengaruhi wajah, dada dan punggung, yang memiliki kepadatan kelenjar sebaceous yang tinggi. Gejala bervariasi dari ringan hingga parah dan dapat berlangsung dari tiga bulan hingga tahunan.

Biasanya kejadian jerawat lebih sering muncul pada anak laki-laki dan lebih parah. Namun jerawat juga bisa muncul pada anak perempuan, bahkan lebih awal dan cenderung berlangsung lebih lama, kadang-kadang hingga penderita menginjak masa dewasa. Jika ditangani, prognosisnya baik.

Foto: Wikimedia

Penyebab 

  • Penyebab pastinya tidak diketahui 
  • Penyebab utama yang mungkin: oklusi folikular, produksi sebum yang terstimulasi oleh androgen, dan Propionibacterium acnes 

Hal-hal yang bisa memperparah

  • Obat-obatan tertentu, antara lain kortikosteroid, glukokortikoid, halogen, phenobarbital, phenytoin (Dilantin), isoniazid (Laniazid), dan 
  • Kosmetik 
  • Stres emosional
  • Paparan senyawa industri 
  • Trauma atau gesekan dengan pakaian ketat 
  • Iklim yang tidak bersahabat 

Patofisiologi

Jerawat adalah penyakit unit pilosebaceus  dan dikaitkan dengan empat faktor patogen:

  • Peningkatan produksi sebum yang diinduksi oleh androgen
  • Deskuamasi sel kulit yang tidak normal di folikel rambut
  • Proliferasi Propionibacterium acnes dan kolonisasi folikel rambut
  • Peradangan yang disebabkan oleh P acnes.

Hormon adalah pendorong utama timbulnya jerawat. Pada masa remaja terjadi peningkatan alami hormon seperti androgen dan estrogen. 

Pada pasien dengan jerawat, hormon androgen terutama testosteron yang terdapat pada pria dan estrogen pada wanitamengubah fungsi kelenjar sebasea, menyebabkan produksi berlebih, dan mengubah konsistensi sebum.

Androgen selanjutnya mengubah perkembangan sel kulit yang melapisi kelenjar sebasea yang menyebabkan hiperkeratinisasi. Sebum dan hiperkeratosis yang berlebihan menyebabkan obstruksi, dan perkembangan mikrokomedo di dalam kelenjar, yang kemudian menjadi komedo terbuka dan tertutup.

Jika penyumbatan berlanjut, kolonisasi dengan bakteri komensal menyebabkan pelepasan mediator inflamasi, menyebabkan peradangan dan perkembangan lesi jerawat berisi nanah.

Tanda dan gejala

  • Komedo tertutup, atau wbitehead (jika tidak menonjol keluar dari folikel dan tertutup oleh epidermis)
  • Komedo terbuka, atau blackhead (jika menonjol keluar dan tidak tertutup oleh epidermis)
  • Inflamasi dan pustula, papula, atau (jika parah) kista atau abses akne yang khas 
  • Parut, jika iesi terus muncul secara kronis 

Uji diagnostik

Diagnosis didasarkan pada riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Kehadiran komedo merupakan data diagnostik penting, tidak adanya komedo menunjukkan bahwa kelainan selain acne vulgaris harus diperhatikan seperti rosacea, dermatitis perioral dan hiperplasia sebasea. 

Area wajah, punggung dan dada pasien harus diperiksa karena tingkat keparahan mungkin berbeda di setiap area.

Hasil dari pengujian kultur dan scnsitivitas pustula menunjukkan organisme penyebab infeksi bakteri sekunder

Penanganan 

  • Antibakteri topikal (misalnya benzoyl pero-xide, clindamycin (Cleocin), atau erythromycin) bisa diberikan, dengan atau tanpa tretinoin (Avita), keratolitik, atau asam salisilat.
  • Pemberian obat antibiotik sistemik jika dibutuhkan, terutama jika ada indikasi infeksi untuk mengurangi pertumbuhan bakteri.
  • Karena efeknya yang parah dan merugikan, rangkaian isotretinoin oral (Accutane) selama 16 sampai 20 minggu hanya boleh diminum oleh pasien yang mengalami akne papulopustular atau berkista parah dan tidak merespons terapi konvensional. 
  • Kontraseptif hormonal oral bisa diberikan pada pasien wanita, karena obat-obatan tersebut berefek antiandrogenik.
  • Injeksi kortikosteroid intralesional bisa diberikan.
  • Paparan sinar ultraviolet dapat diberikan (tetapi jangan pernah diberikan jika agens yang menyebabkan fotosintesis, misalnya tretinoin, sedang digunakan).
  • Penanganan suportif seperti demabrasi, ekstraksi komedo, dan bedah akne, termasuk penggunaan drainase dan ekstraksi jika terdapat eksudat atau pus.

Intervensi Asuhan Keperawatan

  • Periksa riwayat obat pasien karena obat tertentu bisa memperparah akne.
  • Cobalah mengidentifikasi faktor predisposisi yang bisa dieliminasi atau dimodifikasi.
  • Jelaskan pada pasien atau keluarganya bahwa penanganan yang diberikan berpeluang lebih besar dalam menyembuhkan akne, daripada diet ketat dan menggosoknya dengan kuat menggunakan sabun dan air.Berikan instruksi tertulis mengenai penanganan.
  • Jika pasien diberi tretinoin, minta ia mengoleskannya setidaknya 30 menit setelah membasuh muka dan setidaknya satu jam sebelum tidur. Minta ia tidak mengoleskannya di sekitar mata atau bibir. Biasanya, kulit akan terlihat berwarna merah muda dan cenderung kering setelah pemberian obat. 

  • Jika terjadi pengelupasan dan kulit makin memerah, sebaiknya jumlah pemberian dikurangi. Anjurkan pasien untuk mengurangi paparan sinar matahari dengan penggunaan tabir surya atau menghindari aktivitas di luar rumah untuk sementara waktu.

  • Jika perawatan yang diberikan meliputi tretinoin dan benzoyl peroxide, gunakan satu jenis obat di pagi hari dan gunakan obat yang lain di malam hari untuk menghindari iritasi kulit.

  • Minta pasien minum tetrasiklin saat perut kosong dan fidak me-minumnya bersama antasid atau susu
  • Jika pasien diberi tretinoin, minta ia menghindari suplemen vitamin A, karena bisa memperburuk.reaksi merugikan apa pun. 
  • Ingatkan pasien wanita yang diberi isotretinoin mengenai risiko teratogenesis parah, yang berkaitan dengan penggunaan obat tersebut.
  • Pantau fungsi hati pasien dan kadar lipid-nya jika ia diberi isotretinoin. 
  • Beri dukungan emosional. 

Edukasi Pasien

Pasien harus diberikan saran individual untuk meningkatkan hasil pengobatan. Saran berikut berlaku untuk semua jenis jerawat:

  • Hindari memencet jerawat karena ini dapat menyebabkan kerusakan permanen dan jaringan parut.
  • Mencuci dan menggosok secara berlebihan dapat mengiritasi kulit dan memperburuk jerawat. Jika membersihkan, basuh kulit dengan pembersih kulit yang lembut dua kali sehari.

  • Terapi topikal dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gunakan sesuai dosis dan jangan berlebihan. 

  • Gunakan kosmetik, perlengkapan mandi, dan tabir surya yang tidak menyumbat pori pori, biasanya berlabel nonkomedogenik atau bebas minyak.
  • Gunakan obat sesuai petunjuk, perawatan jerawat yang dibeli sebelumnya tidak boleh digunakan kecuali yang di resepkan oleh Dokter.

Ada indikasi bahwa makanan menyebabkan jerawat, oleh sebab itu diet seimbang umumnya disarankan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet dengan indeks glikemik rendah bermanfaat, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut.

Pendidikan pasien yang baik penting untuk memastikan kepatuhan terhadap pengobatan, dan terutama untuk pra-remaja dan remaja, yang memiliki kesulitan terbesar dengan hal ini, terutama jika dalam jangka panjang. Menyediakan produk yang mudah digunakan adalah kunci keberhasilan pengobatan.

Pasien dengan jerawat dapat menjadi sangat peduli dengan penampilan mereka sehingga mereka dapat mengembangkan dysmorphia tubuh. Berilah Dukungan efektif untuk pasien dengan jerawat, terutama sebelum pengobatan berlaku.

Kesimpulan

Intervensi yang tepat waktu dan  pengobatan yang benar serta kepatuhan terhadap pengobatan tersebut adalah kunci untuk berhasil mengobati jerawat dan menghindari efek psikologis jangka panjang serta timbulnya jaringan parut. 

Pasien harus dirujuk ke dokter kulit jika dampak psikologis menjadi perhatian atau mereka tidak menunjukkan respons terhadap pengobatan.

Terapi kombinasi dosis tetap direkomendasikan untuk membantu keberhasilan dan kepatuhan pengobatan. Penggunaan antibiotik dengan waktu terbatas disarankan untuk mencegah resistensi antibiotik. 


Referensi :
  1. Lavers I. 2013. Terapeutic Strategies for Acne Vulgaris. Nursing Times
  2. Pamela C, et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk " Asuhan Keperawatan Acne vulgaris atau Jerawat"