Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Paru Di Kelurahan Bintaro

Judul Skripsi

Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Penderita Tuberkulosis (TBC) Paru BTA Positif Di Kelurahan Bintaro Kota Mataram

Penulis

Irma Unun Untari

Pengetahuan dan Sikap Penderita TB Paru Di Kelurahan Bintaro
Image by bec on wikimedia.org

Abstrak

Penyakit infeksi, salah satunya tuberculosis masih dianggap menjadi masalah utama di negara ini karena berkaitan dengan perilaku, ekonomi dan tingkat sosial budaya masyarakatnya.

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi tuberkulosis paru yang tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India dengan prevalensi nasional diperkirakan 0,24%. Faktor pengetahuan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penularan Tuberkulosis Paru.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif di Kelurahan Bintaro Kota Mataram.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan responden sebanyak 21 orang. Populasi semua penderita tuberkulosis paru BTA positif yang semuanya dijadikan sampel yaitu sebanyak 21 orang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan penderita tentang tuberkulosis paru adalah baik yaitu sebanyak 11 orang (52,4%), sikap penderita tentang tuberkulosis paru adalah baik sebanyak 11 orang (52,4%).

Saran yang dapat penulis sampaikan kepada puskesmas dan pemegang program tuberkulosis paru yaitu agar lebih meningkatkan penyuluhan tentang Tuberkulosis Paru sehingga pengetahuan dan sikap penderita Tuberkulosis Paru bisa lebih baik lagi, serta hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan dalam penanganan pelayanan kesehatan mengenai Tuberkulosis Paru.

Pendahuluan

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB yang tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India. Pada tahun 1993 diperkirakan TB di china, india dan Indonesia berturut-turut 1.828.000, 1.141.000, dan 591.000 kasus. Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru diperkirakan 0,24%.

Pada umumnya, penderita yang terserang Tuberkulosis Paru adalah golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini dikarenakan kemiskinan dan jauhnya jangkauan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan penderita tidak mampu membiayai transportasi ke pelayanan kesehatan dan ini menjadi kendala dalam melakukan pengobatan.

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan (DIKES) Kota Mataram, kasus TB Paru BTA Positif tertinggi pada tahun 2012 yaitu di Puskesmas Ampenan. Data yang diperoleh tiga (3) tahun terakhir yaitu cenderung meningkat mulai tahun 2010 berjumlah 46 orang, tahun 2011 berjumlah 56 orang, dan pada tahun 2012 berjumlah 75 orang.

Masalah yang muncul adalah tingginya kejadian kasus TB Paru, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Ampenan, TB Paru menduduki rangking pertama yang sekarang terdiri dari tujuh (7) kelurahan dengan jumlah penderita BTA Positif yang cenderung meningkat setiap tahunnya selama tiga (3) tahun terakhir.

Berdasarkan data dari Puskesmas Ampenan Kota Mataram, terdapat jumlah penderita TB paru BTA Positif per kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Ampenan. Dimana jumlah penderita mengalami peningkatan yang cukup signifikan tiap tahunnya selama tiga (3) tahun terakhir.

Berdasarkan data yang didapatkan dari puskesmas Ampenan, menunjukkan bahwa Kelurahan Ampenan Tengah mengalami peningkatan kejadian Tuberkulosis Paru selama tiga (3) tahun terakhir. Tingginya kasus TB Paru berdampak buruk bagi kehidupan terutama dalam bidang kesehatan, sosial, budaya, dan ekonomi seperti menurunnya produktifitas kerja, terhambatnya kegiatan sehari-hari, bertambahnya biaya untuk perawatan dan penyembuhan.

Akibat dari Tuberkulosis Paru yang apabila tidak ditangani dengan benar, maka akan menimbulkan beberapa dampak, seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, Tuberkulosis usus, hemoptisis berat, bronkiectasis dan fribosis pada paru.

Upaya untuk menanggulangi penyakit tersebut adalah dengan cara melakukan penyuluhan kepada penderita Tuberkulosis Paru Positif tentang Tuberkulosis Paru, pemberitahuan baik melalui spanduk iklan iklan tentang bahaya Tuberkulosis Paru, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko, melakukan imunisasi BCG sejak dini, serta membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

Resume Hasil

Pengetahuan Tentang TB Paru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 21 orang responden, 11 orang (52,4%) memiliki pengetahuan baik, 5 orang (23,8%) memiliki pengetahuan cukup, dan 5 orang (23.8%) memiliki pengetahuan kurang.

Sebagian besar pengetahuan responden adalah baik, Hal ini dikarenakan responden mendapatkan informasi tentang Tuberkulosis Paru melalui kader dan tenaga medis yang sering melakukan penyuluhan ke Kelurahan Bintaro. Tingkat pengetahuan responden juga mempengaruhi pengetahuan mereka tentang Tuberkulosis Paru. Hal ini sesuai dengan pendapat Bambang (2011), faktor pengetahuan tentang penyakit TB paru adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penularan TB paru.

Sebagian responden lainnya beranggapan bahwa penyakit TB Paru tidak berbahaya dan merupakan penyakit biasa dan akibat guna-guna atau kiriman dari perbuatan manusia dan setan. Karena kesibukannya mereka berlama-lama atau membiarkan saja batuk yang dirasakan.

Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah kemungkinan akan memiliki pengetahuan yang kurang mengenai penyakit TB Paru.

Kejadian TB Paru perlu ditinjau dari aspek lingkungan, pengetahuan, pendidikan, kesadaran masyarakat dan penanganan TB Paru termasuk pencegahan dan perawatannya. Terjadinya TB Paru dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan kesehatan.

Sikap Tentang TB Paru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 21 orang responden, didapatkan sebagian besar responden memiliki sikap baik yaitu 11 orang (52,4%), yang memiliki sikap cukup sebanyak 7 orang (33,3%) dan 3 orang (14,3%) memiliki sikap kurang.

Responden mengetahui bahwa TB paru berbahaya karena bisa tertular pada orang lain dan bahkan dapat mematikan. Hal ini disebabkan karena faktor umur, dimana hasil penelitian didapatkan paling banyak responden dengan umur 40-45 tahun, dimana pada usia tersebut seseorang telah mencapai kematangan dalam berpikir dan bertindak (Ferry, 2010). Salah satu faktor yang juga bisa mempengaruhi sikap seseorang ialah pengetahuan yang dimilikinya...... 

File Lengkap Skripsi PDF bisa diunduh Melalui tombol DOWNLOAD dibawah.

Posting Komentar untuk "Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Paru Di Kelurahan Bintaro"