bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Faktor Penyebab Hipertensi Di RSUD Provinsi NTB

Judul Skripsi

Faktor - Faktor Penyebab Hipertensi Di Poli Dalam RSUD Provinsi NTB

Penulis

Desak Putu Septianingsih

Faktor Penyebab Hipertensi Di RSUD Provinsi NTB
Image by piqsels.com

Abstrak

Berbagai faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada faktor risiko hipertensi primer  yang tidak diketahui penyebabnya seperti genetik, jenis kelamin dan usia, Diet, Obesitas dan gaya hidup serta faktor risiko hipertensi sekunder yang diketahui penyebabnya seperti Penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta, kehamilan, Kegemukan (obesitas), Peningkatan volume intravaskular, merokok, luka bakar dan stres. 

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor penyebab hipertensi pada pasien di Poli Penyakit Dalam RSU Provinsi NTB.

Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian Deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah penderita yang terdiagnosa hipertensi dan komplikasinya. Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2013 dengan cara menggunakan kuisioner. Analisa yang digunakan yaitu univariat.

Hasil penelitian faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan yaitu  faktor keturunan/genetik (76 %), faktor usia 94%), faktor jenis kelamin (37%), sedangkan faktor resiko yang dapat dikendalikan yaitu faktor kebiasaan merokok (17%), faktor kebiasaan meminum alkohol (4 %), faktor kebiasaan berolahraga (7%)

Jadi kesimpulannya faktor resiko hipertensi yang tidak dapat dikendalikan yaitu genetik/keturunann, usia, jenis kelamin, dan faktor resiko hipertensi yang dapat dikendalikan seperti kebiasaan merokok, kebiasaan meminum alkohol, kebiasaan berolahraga.

Latar Belakang

Berdasarkan  JNC VII seorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Seseorang yang berusia 50 tahun dengan tekanan darah sitolik lebih dari > 140 mmHg lebih berisiko menderita penyakit kardiovaskular daripada hipertensi diastolik. Seseorang yang mempunyai tekanan darah normal pada usia 55 tahun, 90% nya berisiko menjadi hipertensi.

Hasil seminar perhimpunan dokter spesialis jantung (PERKI), saraf (PERDOSSI) dan ginjal (PERNEFRI) pada 13-14 Januari 2007 di Jakarta menyatakan bahwa tekanan  darah di atas normal yang tidak ditangani dengan baik akan berakibat pada komplikasi yang lebih berat. 

Selain itu Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI) atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH), menyatakan bahwa, hipertensi sudah menjadi global burden tahun 2000, hipertensi menyumbang 12,8% dari seluruh kematian dan 4,4% dari semua kecacatan (disabilitas) (Depkes RI, 2007)

Hipertensi merupakan salah satu faktor utama risiko kematian karena gangguan kardiovaskular yang mengakibatkan 20-50% dari seluruh kematian (WHO, 2007)

Pada tahun 2010 jumlah pasien penderita Hipertensi primer yang menjalani rawat inap di rumah sakit  mencapai 8.423 pada laki-laki dan 11.451 pada perempuan. Dari keseluruhan pasien tersebut terdapat  950 meninggal. Sedangkan untuk pasien rawat jalan sejumlah 35.462 pasien laki-laki dan 45.153 pasien pada perempuan serta temuan kasus baru sejumlah 80.615 kasus (Kemenkes,2012).

Untuk 3 tahun terakhir Di Nusa Tenggara Barat tercatat sejumlah 6.153 kasus hipertensi sedangkan yang bisa menimbulkan komplikasi ke penyakit lain mencapai  2.345 kasus (Dikes Prop. NTB, 2012)

Berbagai faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada faktor risiko hipertensi primer  yang tidak diketahui penyebabnya seperti genetik, jenis kelamin dan usia, Diet, Obesitas dan gaya hidup, serta faktor risiko hipertensi sekunder yang diketahui penyebabnya seperti Penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta, kehamilan, Kegemukan (obesitas), Peningkatan volume intravaskular, merokok, luka bakar dan stres (Ardiansyah, 2012).

Berdasarkan data dari Rekam Medis Poli Dalam Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dari tahun ke tahun penyakit Hipertensi pada tahun 2009 sebanyak 114, tahun 2010 sebanyak 6.061, tahun 2011 sebanyak 7.457 dan pada tahun 2012 sebanyak 2.161. 

Penyakit Diabetes Melitus pada tahun 2009 sebanyak 113, tahun 2010 sebanyak 6.582, tahun 2011 sebanyak 5.442, dan pada tahun 2012 sebanyak 925. 

Penyakit ISPA pada tahun 2009 sebanyak 52, tahun 2010 sebanyak 4.399, tahun 2011 sebanyak 4.059, dan pada tahun 2012 sebanyak 662. 

Epilepsi pada tahun 2009 sebanyak 113, tahun 2010 sebanyak 1.990, tahun 2011 sebanyak 1.736 dan pada tahun 2012 sebanyak 687. 

Maka dapat disimpulkan bahwa masalah hipertensi menduduki peringkat pertama dari sepuluh macam penyakit yang terbanyak Di Poli Dalam RSU Provinsi NTB

Salah satu cara untuk menanggulangi masalah kesehatan adalah dengan pencegahan terjadinya hipertensi bagi masyarakat secara umum dan pencegahan kekambuhan bagi penderita hipertensi perlu dilakukan oleh semua penderita hipertensi agar tidak terjadi peningkatan tekanan darah yang lebih parah.

Untuk mengatasi hal tersebut konsep solusi yang diupayakan agar hipertensi esensial tidak terjadinya komplikasi yang lebih lanjut antara lain, Hipertensi esensial tidak bisa diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Resume Hasil

Identifikasi Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan

1. Faktor Genetik Terhadap Hipertensi

Berdasarkan hasil pengumpulan data, riwayat keluarga dengan hipertensi atau keturunan terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi dari hasil penelitian ini yang menunjukkan sebanyak 82 orang (76%) memiliki faktor riwayat keturunan terhadap hipertensi.

Ardiansyah (2012) mengatakan bahwa keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat.Menurut sheps, hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan.

2. Faktor Usia Terhadap Hipertensi

Hasil penelitian memperoleh data bahwa 101 orang (94%) memiliki faktor Usia  terhadap hipertensi.Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi meningkat. Hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering dijumpai pada usia 45 tahun atau lebih.

Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan seiring berteambahnya usia, kebanyakan orang mengalami hipertensi ketika berumur lima puluhan dan enam puluhan.

3. Faktor Jenis Kelamin Terhadap Hipertensi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh jenis kelamin penderita hipertensi terbanyak pada laki-laki yaitu 68 responden (63%) yang berartihal tersebut kemungkinan disebabkan variabel jenis kelamin laki-laki dipengaruhi oleh variabel lain yang lebih kuat sebagai faktor risiko hipertensi, seperti kebiasaan merokok, kebiasaan meminum alkohol, kurangnya berolahraga.

Identifikasi Faktor resiko yang dapat dikendalikan

1. Faktor Merokok Terhadap Hipertensi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 90 orang (83%) yang tidak memiliki faktor kebiasaan merokok terhadap hipertensi, yang berarti variabel yang tidak memiliki kebiasaan merokok dipengaruhi oleh variabel lain yang lebih kuat sebagai faktor risiko hipertensi, seperti faktor keturunan dan faktor umur.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Rahyani, (2005) didapatkan 20% dari penderita hipertensi mempunyai riwayat merokok.

2. Faktor Alkohol Terhadap Hipertensi

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 104 orang (96%) yang tidak memiliki faktor kebiasaan meminum alkohol terhadap hipertensi, yang berarti variabel yang tidak memiliki kebiasaan meminum alkohol dipengaruhi oleh variabel yang lebih kuat sebagai faktor risiko hipertensi, seperti faktor keturunan dan faktor usia.

Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Saverio Stranges,(2005), yang menyatakan bahwa kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol merupakam faktor risiko hipertensi, karena semua variabel dianalisis secara bersama-sama.

3. Faktor Kurang Olahraga Terhadap Hipertensi

Pada Hasil Penelitian, diperoleh sebanyak 100 orang (93%) yang memiliki kebiasaan berolahraga terhadap hipertensi, yang kemungkinan variabel yang tidak memiliki kebiasaan berolahraga dipengaruhi oleh variabel yang lebih kuat sebagai faktor hipertensi, seperti faktor keturunan dan faktor usia.

Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Hernelahti M, (2008) yang menyatakan bahwa tidak biasa melakukan olahraga akan meningkatkan risiko terkena hipertensi sebesar 2,33 kali dibanding dengan yang biasa berolahraga...........

File PDF Skripsi Lengkap bisa diunduh pada tombol DOWNLOAD di Bawah.