bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Gambaran Penatalaksanaan Strategi DOTS Pada Pasien TB Paru

Judul Skripsi

Gambaran Penatalaksanaan Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) Pada Pasien TB Paru Di Puskesmas Gunungsari Kabupaten Lombok Barat.

Gambaran Penatalaksanaan Strategi DOTS Pada Pasien TB Paru
Image by NIAID on wikimedia.org

Penulis

Baiq Maliatul Ulya

Abstrak

Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang menyerang parenkim paru. Di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terjadi 175.000 kematian akibat TB. 

Salah satu penyebab utama ketidakberhasilan pengobatan adalah karena tidak teraturnya penderita minum obat yang akan menyebabkan terjadinya resistensi kuman TB terhadap obat yang diberikan. Strategi DOTS adalah strategi yang direkomendasikan WHO yang dimulai dengan keharusan peran serta setiap pengelola program TB untuk memberi direct attention dalam usaha menemukan penderita, menjamin dan mencegah resistensi serta keteraturan pengobatan dengan dilakukan pengawasan pengobatan terhadap penderita TB paru.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan strategi DOTS pada pasien TB Paru di Puskesmas Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. 

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel secara accidental sampling dengan jumlah responden 26 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner dan observasi.

Hasil penelitian yang diperoleh dari komponen Strategi DOTS yaitu kebijakan pemerintah (dukungan dana), pemeriksaan dahak secara mikroskopis, ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT), adanya peran Pengawas Minum Obat (PMO) serta pencatatan dan pelaporan telah berjalan sesuai dengan pedoman penanggulangan Tuberculosis Paru.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk meningkatkan pelayanan dan pengawasan kepada Penderita TB Paru dalam menjalankan program pencegahan dan pemberantasan TB Paru secara optimal.

Latar Belakang

Program pemberantasan penyakit menular mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian. 

Diantaranya program pemberantasan tuberculosis (P2TB) yang merupakan salah satu prioritas, hal ini ditandai dengan dimasukkannya pemberantasan tuberculosis dalam target pembangunan millennium (Millenium Development Goals, MDGs) tahun 2015. 

Salah satunya adalah dengan pelaksanaan strategi DOTS (Directly Observed Treatmen Shortcourse ) yang direkomendasikan WHO yang dimulai dengan keharusan peran serta setiap pengelola program TB untuk memberi direct attention dalam usaha menemukan penderita dan bertujuan untuk menjamin dan mencegah resistensi serta keteraturan pengobatan dan mencegah droup out/lalai dengan dilakukan pengawasan dan pengendalian pengobatan terhadap penderita tuberculosis (Depkes, 2010).

Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi. 

Diperkirakan masih terdapat sekitar 9,5 Juta kasus baru TB dan sekitar 0,5 Juta orang meninggal akibat TB diseluruh dunia, dan di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terjadi 175.000 kematian akibat TB dan terdapat 445.000 kasus TB setahunnya (WHO, 2009).

Jumlah penderita TB BTA+ di NTB menunjukan angka yang tinggi tiap tahunnya, pada tahun 2011 jumlah penderita TB BTA+ mencapai 3.637 penderita.

Dari data diatas dapat dilihat jumlah penderita TB BTA+ sebagian besar puskesmas di Kabupaten Lombok Barat mengalami penurunan jumlah diikuti dengan persentase kesembuhan masing-masing puskesmas yang mengalami peningkatan maupun penurunan persentase.

Alasan peneliti memilih Puskesmas Gunungsari sebagai lokasi penelitiankarena merupakan salah satu puskesmas dengan angka kejadian TB BTA+ dengan jumlah yang cukup banyak di kabupaten Lombok Barat tahun 2011-2012 setelah puskesmas Kediri. 

Namun dengan jumlah yang cukup banyak, persentase kesembuhan di Puskesmas Gunungsari mengalami penurunan yang belum mencapai yang diharapkan yaitu target WHO dengan persentase kesembuhan > 85%.

Adapun ketidakberhasilan berobat bagi penderita TB Paru yang disebabkan oleh berbagai faktor lain antara lain keadaan umum penderita yang jelek, tidak ada biaya transport untuk pengambilan obat ke puskesmas dan ketidakteraturan berobat.

Upaya untuk menekan jumlah penderita tuberculosis adalah dengan meningkatkan dan memperluas pelayanan strategi DOTS (Directly Observed Treatmen Shortcourse) yang berkualitas agar dapat menjangkau seluruh pasien TB, meningkatkan tingkat penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan dengan menerapkan lima komponen dalam stategi DOTS yaitu dukungan politis para pimpinan wilayah pemerintahan setiap jenjang untuk pelaksanaan kegiatan strategi DOTS dalam menyediakan akses dan standar pelayanan yang diperlukan, pemeriksaan mikroskopis dan penyediaan OAT yang bermutu dan terjamin dari petugas kesehatan, tersedianya PMO dari petugas kesehatan maupun dari anggota keluarga serta pencatatan dan pelaporan atau rekam medik yang berkualitas bagi seluruh pasien TB tanpa terkecuali (Strategi Nasional Pengendalian TB, 2011).......

File PDF Skripsi lengkap bisa di unduh melalui tombol DOWNLOAD di bawah.