Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Mononukleosis

Mononukleosis menular merupakan penyakit menular akut. Penyakit ini paling sering menyerang orang dewasa muda dan anak-anak, tetapi pada anak-anak biasanya terlalu ringan sehingga umumnya diabaikan. 

Mononukleosis menular cukup sering terjadi di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, dan sama-sama menyerang pria maupun wanita. Insidensinya bervariasi secara musiman di antara mahasiswa (paling sering di awal musim semi dan awal musim gugur) tetapi tidak umum terjadi di populasi umum. 

Secara khas, mononukleosis menular menimbulkan demam, sakit tenggorokan, dan limfadenopati servikal (penanda penyakit), dan juga disfungsi hepatik, limfosit dan monosit bertambah banyak, dan perkembangan dan kekontinuan antibodi heterofil. Prognosisnya sangat baik, dan komplikasi berat tidak sering terjadi.

foto by James Heilman, MD from: wikimedia.org

Penyebab 

Mononukleosis menular disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) atau human herpesvirus tipe 4. Ditandai dengan kelelahan, demam, faringitis, dan limfadenopati. Kelelahan bisa berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan. 

Komplikasi berat, termasuk obstruksi jalan napas, ruptur limpa, dan sindrom neurologis, kadang-kadang terjadi. Diagnosis klinis atau dengan tes serologi EBV. Pengobatan bersifat suportif.

Patofisiologi

Setelah terpapar di rongga mulut, EBV menginfeksi limfosit B. Limfosit yang abnormal secara morfologis (atipikal) berkembang, terutama dari sel CD8 + T yang merespons infeksi.

Setelah infeksi primer, EBV tetap di dalam inang terutama di limfosit B seumur hidup dan mengalami pelepasan asimtomatik intermiten dari orofaring. Virus ini terdeteksi pada sekresi orofaring dari 15 sampai 25% orang dewasa seropositif EBV yang sehat. Peningkatan frekuensi dan titer pada pasien yang mengalami gangguan sistem imun seperti penerima alograf organ, orang yang terinfeksi HIV.

Penularan

Penularan dapat terjadi melalui transfusi produk darah tetapi lebih sering terjadi melalui ciuman antara orang yang tidak terinfeksi dan orang yang seropositif EBV yang mengeluarkan virus tanpa gejala. Hanya sekitar 5% pasien memperoleh EBV dari seseorang yang memiliki infeksi akut.

Penularan anak usia dini lebih sering terjadi di antara kelompok sosial ekonomi bawah dan dalam kondisi padat.

Tanda dan gejala 

Setelah periode inkubasi sekitar 4 sampai 6 minggu pada orang dewasa muda, mononukleosis menular menimbulkan gejala prodromal: 

  • Letih 
  • Tidak enak badan 

Setelah 3 sampai 5 hari, pasien biasanya menunjukkan tanda dan gejala: 

  • Limfadenopati servikal 
  • Sakit kuning 
  • Ruam makulopapular yang menyerupai rubela (di stadium awal) 
  • Sakit tenggorokan 
  • Splenomegali, hepatomegali, stomatitis, tonsilitis eksudatif, atau faringitis
  • Fluktuasi suhu, pada malam hari mencapai puncaknya yaitu 101° sampai 102° F (38,3° sampai 38,9° C) Biasanya gejala hilang 6 sampai 10 hari setelah serangan penyakit tetapi bisa juga masih terlihat selarna beberapa minggu. 

Uji diagnostik 

  • Uji monospot positif untuk mononukleosis menular.
  • Jumlah sel darah putih (white blood cell — WBC) meningkat 10.000 sampai 20.000/mm3 selama penyakit memasuki minggu kedua sampai ketiga. Jumlah limfosit dan monosit mencakup 50% sampai 70% dari jumlah WBC total, 10% limfosit tidak normal.
  • Antibodi heterofil (aglutinin untuk sel darah merah domba) dalam serum yang diambil selama penyakit memasuki fase akut dan dalam interval 3 sampai 4 minggu meningkat sampai empat kali normal. 
  • Imunofluoresen tidak langsung menunjukkan antibodi terhadap EBV dan antigen selurar. Pengujian semacam ini biasanya lebih meyakinkan daripada antibodi 
  • Studi fungsi hati menunjukkan hasil abnormal.

Penanganan 

  • Terapinya suportif: meringankan gejala, beristirahat di ranjang saat periode febril akut, dan aspirin atau salisilat lain untuk sakit kepala dan sakit tenggorokan. 
  • Jika inflamasi parah di tenggorokan menyebabkan obstruksi jalan napas, steroid bisa digunakan untuk meringankan pembengkakan dan menghindari trakeotomi.
  • Ruptur splenik, yang ditandai dengan nyeri abdomen mendadak, membutuhkan splenektomi.
  • Sekitar 20% penderita mononukleosis menular juga mengalami faringotonsilitis streptokokal dan sebaiknya menjalani terapi antibiotik selama setidaknya 10 hari.

Intervensi Asuhan Keperawatan

Intervensi asuhan keperawatan pada mononukleosis antara lain:

  • Segera beri pengajaran pada penderita mononukleosis menular tanpa komplikasi karena mereka tidak harus dirawat di rumah sakit. Pemulihan bisa memakan waktu beberapa minggu, biasanya sampai jumlah WBC pasien kembali normal.
  • Tekankan perlunya beristirahat di ranjang saat penyakit memasuki fase akut. Jika pasien adalah siswa, ia boleh tetap mengerjakan tugas sekolah yang tidak terlalu berat dan bertemu teman-temannya, tetapi sebaiknya menghindari pekerjaan sulit yang butuh waktu lama sampai ia sembuh. 
  • Beri pasien milk shake, jus buah, dan air daging, serta makanan dingin dan lunak untuk meminimalkan ketidaknyamanan tenggorokan.
  • Sarankan pasien menggunakan obat kumur yang mengandung garam dan aspirin seperlunya.


Referensi:

  1. Kenneth M.Kaye. 2019. Infection Mononucleosis (Mono). Brigham and Women’s Hospital, Harvard Medical School. MSD Manual 
  2. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Mononukleosis"