Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Cerebral Palsy

Sahabat Repro Note, artikel kali ini akan membahas mengenai konsep intervensi asuhan keperawatan pada cerebral palsy. Cerebral palsy menjadi penyebab paling umum dari lumpuh pada anak-anak dan merupakan kelompok gangguan neuromuskular yang disebabkan oleh kerusakan sistem saraf prenatal, perinatal, atau postnatal. 

Cerebral paisy muncul dalam tiga tipe utama yaitu spastik (70%), atetoid (20%), dan ataksik (10%), kadang-kadang dalam bentuk campuran. Kerusakan motorik bisa minimal, kadang-kadang hanya tampak saat penderita melakukan aktivitas fisik seperti  berlari atau kerusakan motorik parah sampai terjadinya kelumpuhan. 

Photo by Martine Perret / UNMIT on flickr

Kelainan terkait seperti kejang, gangguan bicara, dan retardasi mental juga umum terjadi. Prognosisnya bervariasi sesuai tingkat kerusakan yang terjadi.

Untuk asuhan keperawatan pada cerebral palsy, intervensi keperawatan di fokuskan terhadap pemenuhan kebutuhan nutrisi, meminimlaksan spastisitas, memaksimalkan penggunaan alat bantu, dan pendidikan untk keluarga pasien dalam perawatan cerebral palsy dirumah.  

Penyebab

a. Prenatal 

  • Pelekatan plasental yang abnormal 
  • Anoksia 
  • Iradiasi 
  • Isoimunisasi Malnutrisi 
  • Diabetes maternal 
  • Infeksi maternal  terutama rubela saat kehamilan memasuki trimester pertama. 
  • Tidak adanya kompatibilitas faktor Rh atau golongan darah AB 
  • Toksemia 

b. Perinatal dan kesulitan kelahiran 

  • Abruptio placentae 
  • Kelahiran sungsang 
  • Tanda vital maternal yang tertekan akibat anestetik umum atau tulang belakang 
  • Kelahiran dengan forsep 
  • Oksigenasi otak yang tidak cukup 
  • Kelahiran multiple, terutama bayi yang lahir dalam kelahiran multiple. 
  • Placenta previa
  • Kelahiran prematur 
  • Korda yang mengalami prolaps, disertai keterlambatan mengeluarkan kepala 
  • Proses kelahiran yang berlangsung lama atau cepat secara tidak lazim 

c. Infeksi atau trauma saat masa bayi 

  • Infeksi otak 
  • Tumor otak 
  • Anomali sirkulatorik serebral yang menyebabkan ruptur pembuluh darah 
  • Kernikterus yang disebabkan oleh eritroblastosis fetalis 
  • Anoksia dalam waktu lama 
  • Penyakit sistemik yang menyebabkan trombosis atau embolus serebral 

Tanda dan gejala 

a. Cerebral palsy spastik 

  • Refleks tendon dalam hiperaktif 
  • Refleks peregangan meningkat 
  • Kontraksi otot sebagai respons terhadap manipulasi 
  • Otot melemah 
  • Kontraksi dan relaksasi otot yang bergantian dengan cepat 
  • Kecenderungan terhadap kontraktur 
  • Bagian tubuh yang diserang kurang berkembang 
  • Berjalan dengan jari kaki dengan cara berjalan seperti gunting, yaitu menyilangkan satu kaki di depan kaki yang lain 

b. Cerebral palsy atetoid 

  • Gerakan atetoid: meningkat saat stres, menurun saat rileks, tidak tampak saat tidur
  • Gerakan tidak terkendali atau involunter seperti menggeliat seperti menyentak tiba tiba yang mengganggu gerakan volunter 
  • Gerakan involunter yang menyerang lengan lebih berat daripada kaki 
  • Kesulitan bicara akibat gerakan fasial involunter

c. Cerebral palsy ataksik 

  • Ataksia yang membuat gerakan mendadak atau tegas hampir mustahil dilakukan 
  • Keseimbangan terganggu 
  • Refleks hipoaktif 
  • Tidak ada koordinasi (terutama di lengan) 
  • Kurangnya gerakan kaki saat masa bayi 
  • Otot lemah 
  • Nistagmus 
  • Gemetar (dan juga gemetar yang bermakna) 
  • Cara berjalan yang lebar saat anak mulai berjalan 

d. Bentuk campuran 

  • Keabnormalan gigi 
  • Gangguan fungsi motorik yang menyebabkan sulit makan, terutama menelan, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan 
  • Gangguan bicara (sekitar 80%) 
  • Retardasi mental (mencapai 40% pasien) 
  • Tidak mampu membaca 
  • Gangguan sawan atau kejang (sekitar 25%) 
  • Kelainan penglihatan dan pendengaran. 

Pemeriksaan diagnostik 

Curigai adanya cerebral palsy jika bayi: 

  • Kesulitan menghisap ASI atau makan
  • Jarang bergerak atau gemetar saat melakukan gerakan volunter
  • Menyilangkan kakinya saat diangkat dari belakang
  • Memiliki kaki yang sulit dipisahkan atau diregangkan antara kaki kanan dan kiri
  • terus menggunakan satu tangan saja atau, saat ia bertambah usia, menggunakan kedua tangannya dengan baik, tetapi kakinya tidak. 

Computed tomography scan dan magnetic resonance imaging bisa membantu menyingkirkan masalah lain.

Penanganan 

Penanganan yang utama adalah penanganan suportif dan meliputi: 

  • Penyangga atau bebat dan alat khusus, misalnya peralatan makan yang telah diadaptasi dan dudukan toilet rendah yang dilengkapi lengan, untuk membantu pasien mandiri dalam melakukan aktivitas 
  • latihan jangkauan pergerakan untuk meminimalkan kontraktur 
  • Pembedahan ortopedi untuk mengoreksi kontraktur 
  • Phenytoin (Dilantin), phenobarbital, atau antikonvulsan lain untuk meminimalkan kejang 
  • Relaksan otot atau bedah saraf. 

Intervensi Asuhan Keperawatan

  • Beri makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi anak. Jaga atmosfer yang sunyi dan tidak tergesa-gesa dengan gangguan sesedikit mungkin. 
  • Mungkin anak membutuhkan peralatan khusus seperti bangku dengan penyangga kaki. 
  • Minta ia menempatkan makanan jauh di bagian belakang mulut untuk memudahkannya menelan. 
  • Dorong anak mengunyah makanannya sampai benar-benar lumat, minum melalui sedotan, dan mengisap permen lolipop untuk mengembangkan kontrol otot yang diperlukan untuk meminimalkan kebiasaan meneteskan air liur. 
  • Izinkan anak membasuh badan dan berpakaian sendiri, bantu ia seperlunya. Anak mungkin memerlukan modifikasi pakaian. 
  • Lakukan perawatan secara perlahan untuk meminimalkan spasitas otot makin parah
  • Dorong anak dan keluarganya berpartisipasi dalam perawatannya sehingga mereka bisa melanjutkannya di rumah.
  • Jika anak mengalami spastisitas, secara lembut rotasikan tangan atau kaki ke arah dalam, kemudian rotasikan keluar. Ulangi tindakan ini untuk membantu merilekskan ekstremitas yang mengalami spastisitas. Tekanan pada tendon yang terletak di lekuk sendi saat rotasi akan meningkatkan relaksasi. Secara lembut, ambil aspek lateral tangan dan gerakkan ke dalam keluar untuk membuka tangan yang mengalami spastisitas. 
  • Saat memosisikan anak, panjangkan sisi yang turun, untuk memastikan bahwa bahu yang turun sedikit tertarik keluar dan bahwa semua anggota tubuh tertopang dengan baik. 
  • Ortotik tangan dan kaki bisa berguna untuk menjaga mobilitas. 
  • Kenali stres yang dialami keluarga dan bantu mereka mengatasinya.
  • Sarankan orang tua mengunjungi organisasi komunitas suportif seperti cerebral Palsy Association.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Cerebral Palsy"