Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Aspergilosis

Aspergillosis adalah infeksi oportunistik yang disebabkan oleh spora jamur Aspergillus yang terhirup. Umumnya terdapat di lingkungan tempat spora berkecambah dan berkembang menjadi hifa lalu masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan nekrosis hemoragik dan infark. Gejala asma, pneumonia, sinusitis, atau penyakit sistemik.

Foto by Yale Rosen from: flickr.com 

Penyebab 

Aspergillus, Infeksi nvasif biasanya didapat dengan menghirup spora atau, kadang-kadang, dengan invasi langsung melalui kulit yang rusak.

Faktor risiko utama untuk aspergillosis:

  • Neutropenia bila berkepanjangan (biasanya> 7 hari)
  • Terapi kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang
  • Transplantasi organ terutama transplantasi sumsum tulang dengan penyakit graft-vs-host (GVHD)
  • Gangguan herediter fungsi neutrofil (misalnya penyakit granulomatosa kronis)

Spesies Aspergillus cenderung menginfeksi ruang terbuka, seperti rongga paru yang disebabkan oleh kelainan paru-paru sebelumnya misalnya, bronkiektasis, tumor, tuberkulosis, sinus, atau saluran pendengaran eksternal (otomycosis). Infeksi semacam itu cenderung invasif dan destruktif secara lokal, meskipun penyebaran sistemik kadang-kadang terjadi, terutama pada pasien dengan gangguan sistem imun dengan neutropenia atau penekanan kekebalan akibat penggunaan kortikosteroid. 

Tanda dan gejala 

  • Aspergillosis paru invasif akut biasanya menyebabkan batuk, seringkali disertai hemoptisis, nyeri dada pleuritik, dan sesak napas. Jika tidak diobati, aspergillosis paru invasif dapat menyebabkan kegagalan pernapasan yang progresif cepat dan akhirnya fatal.
  • Aspergillosis paru kronis dapat bermanifestasi dengan gejala yang ringan dan lamban meskipun penyakitnya signifikan.
  • Aspergillosis invasif ekstrapulmonal terjadi pada pasien dengan gangguan sistem imun yang parah. Ini dimulai dengan lesi kulit, sinusitis, atau pneumonia dan mungkin melibatkan hati, ginjal, otak, dan jaringan lain, seringkali berakibat fatal.
  • Aspergillosis pada sinus dapat membentuk aspergilloma atau menyebabkan alergi jamur sinusitis atau peradangan granulomatosa invasif lambat kronis dengan demam, rinitis, dan sakit kepala. Pasien mungkin memiliki lesi kulit necrosing di atas hidung atau sinus, ulserasi palatal atau gingiva, tanda-tanda trombosis sinus kavernosus, atau lesi paru atau diseminata.
  • Aspergilloma biasanya asimtomatik, meskipun dapat menyebabkan batuk ringan dan kadang-kadang hemoptisis.

Uji diagnostik 

Karena spesies Aspergillus umum di lingkungan, biakan dahak yang positif mungkin disebabkan oleh kontaminasi lingkungan atau kolonisasi noninvasif pada pasien dengan penyakit paru-paru kronis. Biakan positif signifikan terutama bila dahak diperoleh dari pasien dengan peningkatan kerentanan akibat imunosupresi atau neutropenia atau bila ada kecurigaan tinggi karena temuan pencitraan yang khas. Sebaliknya, kultur dahak dari pasien dengan aspergilloma atau aspergillosis paru invasif seringkali negatif.

Foto rontgen dada dapat dilakukan, namun CT Scan dada jauh lebih sensitif dan harus dilakukan jika pasien berisiko tinggi seperti neutropenik. CT sinus dilakukan jika dicurigai adanya infeksi sinus. Bola jamur yang dapat bergerak di dalam lesi kavitas merupakan karakteristik keduanya, meskipun sebagian besar lesi bersifat fokal dan padat. Terkadang pencitraan mendeteksi tanda halo (bayangan kabur yang mengelilingi nodul) atau kavitasi di dalam lesi nekrotik. Infiltrat paru umum yang menyebar terlihat pada beberapa pasien.

Kultur dan histopatologi sampel jaringan biasanya diperlukan untuk konfirmasi histopatologi membantu membedakan infeksi invasif dari kolonisasi. Sampel biasanya diambil dari paru-paru melalui bronkoskopi atau biopsi jarum perkutan dan dari sinus melalui rinoskopi anterior. 

Karena kultur membutuhkan waktu dan hasil histopatologi mungkin negatif palsu, sebagian besar keputusan untuk pengobatan didasarkan pada bukti klinis dugaan yang kuat. Pada endokarditis aspergillus, vegetasi besar sering melepaskan emboli yang cukup besar yang dapat menyumbat pembuluh darah dan memberikan spesimen untuk diagnosis.

Deteksi antigen seperti galaktomanan bisa spesifik. Tapi dalam serum seringkali tidak cukup sensitif untuk mengidentifikasi sebagian besar kasus pada tahap awal. Pada aspergillosis paru invasif, tes galaktomanan pada cairan lavage bronchoalveolar jauh lebih sensitif dibandingkan pada serum dan seringkali satu-satunya pilihan untuk pasien dengan trombositopenia, yang dikontraindikasikan untuk biopsi. 

Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) tersedia secara komersial, tetapi saat ini tidak disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) A.S. Kultur darah hampir selalu negatif, bahkan dalam kasus endokarditis yang jarang terjadi.

Penanganan 

  • Vorikonazol
  • Isavukonazol
  • Amfoterisin B (termasuk formulasi lipid)
  • Echinocandins sebagai terapi penyelamatan
  • Terkadang operasi untuk aspergilloma

Infeksi invasif biasanya memerlukan pengobatan agresif dengan vorikonazol atau isavukonazol, yang memiliki kemanjuran yang sama dan efek samping yang lebih sedikit daripada vorikonazol. 

Amfoterisin B juga efektif, meski lebih toksik. Posaconazole oral atau itraconazole dapat efektif dalam beberapa kasus. Caspofungin atau echinocandins lainnya dapat digunakan sebagai terapi penyelamatan. Terapi kombinasi dengan vorikonazol dan echinocandins mungkin efektif pada pasien tertentu.

Biasanya, penyembuhan lengkap membutuhkan pemulihan imunosupresi misalnya, resolusi neutropenia, penghentian kortikosteroid. Sering terjadi kekambuhan jika neutropenia berulang.

Aspergilloma tidak memerlukan atau menanggapi terapi antijamur sistemik tetapi mungkin memerlukan reseksi karena efek lokal, terutama hemoptisis.

Profilaksis dengan posaconazole atau itraconazole dapat dipertimbangkan untuk pasien berisiko tinggi seperto orang dengan penyakit graft-vs-host atau neutropenia akibat leukemia mielositik akut.

Intervensi asuhan Keperawatan 

Intervensi asuhan keperawatan pada aspergillosis antara lain:
  • Bantu dengan fisioterapi dada, dan minta pasien batuk secara efektif.
  • Pantau tanda vital pasien, asupan dan output pasien, dan hasil uji diagnostik. 
  • Beri dukungan emosional pada pasien dan keluarganya. Siapkan konseling yang menangani duka cita jika pasien menderita aspergilosis terdiseminasi yang tidak merespons terapi.


Sumber:

  1. Sanjay G Revankar.2019.  Aspergillosis. Wayne State University School of Medicine. MSD Manual Proffesional Version
  2. Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.
Elisa Oktaviana, Ners M.Kep
Elisa Oktaviana, Ners M.Kep Praktisi dan Dosen di Program Studi S1 Keperawaatan Stikes Yarsi Mataram.

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Aspergilosis"