Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Anemia Defisiensi Zat Besi

Pada penderita anemia defisiensi zat besi, suplai zat besi yang tidak mencukupi untuk pembentukan sel darah merah (red blood cell - RBC) secara optimal menyebabkan adanya sel yang lebih kecil (mikrositik) dan kurang berwarna saat dilakukan pewarnaan. 

Penyimpanan zat besi di tubuh, termasuk zat besi plasma, akan berkurang. Transferin, yang mengikat dan mengangkut zat besi, juga akan berkurang. Ketidakcukupan simpanan zat besi ini menyebabkan kumpulan RBC alcan habis dan pada waktunya akan menurunkan kadar hemoglobin (Hb) (hipokromia) dan mengurangi kemampuan darah dalam membawa oksigen. 

Anemia defisiensi zat besi adalah penyakit yang muncul di seluruh dunia dan menyerang 10% sampai 30% orang dewasa di Amerika Serikat. Anemia defisiensi zat besi paling sering menyerang wanita postmenopause, bayi (terutama bayi prematur dan yang berat badannya saat lahir kurang dari normal), anak-anak, dan remaja (terutama remaja putri). 

Asuhan Keperawatan Anemia Defisiensi Zat Besi
Photo by CHeitz on wikimedia.org

Penyebab 

  • Kehilangan darah secara sekunder 
  • Kekurangan zat besi dalam makanan (kurang dari 2 mg/hari) 
  • Hemolisis intravaskular 
  • Malabsorpsi zat besi 
  • Trauma eritrosit mekanis (disebabkan oleh katup jantung atau penyaring vena cava prostetik) 
  • Kehamilan 

Tanda dan gejala 

Pada anemia defisiensi zat besi stadium awal biasanya tidak ada gejala yang signifikan. Gejala biasnya akan muncul saat masuk ke stadium lanjutan, antara lain:

  • Kadar Hb turun 
  • Letih 
  • Tidak mampu berkonsentrasi 
  • Iritabilitas 
  • Tidak bergairah 
  • Pucat 
  • Takikardia 

Anemia defisiensi zat besi kronis 

  • Sudut mulut pecah-pecah 
  • Disfagia 
  • Nyeri neuralgis 
  • Mati rasa dan kesemutan di ekstremitas 
  • Lidah menjadi halus 
  • Kuku berbentuk-sendok dan rapuh 

Uji diagnostik 

Hasil pemeriksaan darah yang khas meliputi: 

  • Kadar Hb rendah (pada pria kurang dari 12 g/d1, pada wanita kurang dari 10 g/dl)
  • Hematokrit rendah (pada pria kurang dari 42%, pada wanita kurang dari 36%) 
  • Kadar zat besi serum rendah, dengan kapasitas pengikatan zat-besi yang tinggi
  • Kadar feritin serum rendah 
  • Jumlah RBC sedikit, dengan sel mikrositik dan hipokromik (pada stadium awal, jumlah RBC bisa normal, kecuali pada bayi dan anak-anak) 
  • Rata-rata kadar Hb korpuskular menurun (pada penderita anemia parah) 

Penanganan 

  • Prioritas pertama adalah menentukan penyebab mendasar dari anemia. Kemudian dilakukan penggantian zat besi. 
  • Pilihan penanganannya adalah sediaan zat besi oral atau kombinasi zat besi dan asam askorbat (yang meningkatkan absorpsi zat besi). 
  • Zat besi harus diberikan secara parenteral jika pasien tidak bisa menerima sediaan oral, jika ia memerlukan zat besi lebih dari yang bisa ia terima, jika malabsorpsi mencegah absorpsi zat besi dengan baik, atau jika diinginkan adanya regenerasi kadar HB maksimum. (Lihat Menginjeksi larutan zat besi.)

  • Karena tidak terasa menyakitkan dan membutuhkan lebih sedikit injeksi, infusi suplemen zat besi I.V. dosis-total biasanya dipilih melalui pemberian I.M. 

  • Pasien yang sedang hamil dan pasien lansia yang menderita anemia parah, misalnya, sebaiknya menerima infusi dextran zat besi dosis-total dalam larutan garam selama 8 jam. Untuk meminimalkan risiko reaksi alergis terhadap zat besi, dosis uji IV. sebesar 0,5 ml sebaiknya diberikan pertama kali. 

Pengkajian Asuhan Keperawatan

Riwayat diet. 

Riwayat diet penting dalam pengkajian asuhan keperawatan. Vvegetarian lebih mungkin mengalami kekurangan zat besi kecuali makanan mereka dilengkapi dengan makanan yang mengandung zat besi tinggi. 

Program nasional suplementasi zat besi makanan banyak dilakukan di berbagai negara dimana masyarakatnya memiliki tingkat konsumsi daging yang rendah, sehingga anemia defisiensi besi lazim terjadi.

Riwayat perdarahan

Pendarahan adalah penyebab paling umum dari kekurangan zat besi, baik perdarahan akut atau kronis seperti infeksi parasit cacing tambang, hematuria, hematemesis, dan hemoptisis.

Pemeriksaan fisik. 

Anemia menyebabkan pucat nonspesifik pada selaput lendir; seperti konjungtiva, esofagus, koilonychia, glositis, stomatitis sudut, dan atrofi lambung.

Fokus Asuhan keperawatan

Fokus  asuhan keperawatan utama untuk pasien dengan anemia defisiensi besi adalah:

  • Konservasi energi.
  • Pengurangan kelelahan, yang dibuktikan dengan laporan peningkatan energi dan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang diinginkan.
  • Pemahaman tentang penyakitnya sendiri dan rencana pengobatan.
  • Penurunan risiko infeksi yang dibuktikan dengan tidak adanya demam, jumlah sel darah putih normal, dan penerapan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan yang benar.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal.
  • Penurunan risiko perdarahan, yang dibuktikan dengan kadar trombosit yang normal atau adekuat dan tidak adanya memar dan petekie.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Ulas panduan mengelola anemia dengan pasien dan keluarganya. 
  • Pantau kepatuhan pasien terhadap terapi suplemen yang diberikan. Sarankan ia tidak menghentikan terapi, bahkan jika ia merasa lebih baik, karena penggantian simpanan zat besi akan memakan waktu. 
  • Beri tahu pasien bahwa susu dan antasida akan mengganggu absorpsi zat besi, namun vitamin C bisa membantunya. Sarankan ia meminum suplemen zat besi cair melalui sedotan agar tidak menodai giginya. 
  • Minta pasien melaporkan reaksi merugikan misalnya mual, muntah, diare, konstipasi, demam, dan nyeri lambung parah yang mungkin memerlukan penyesuaian dosis. 
  • Pantau tingkat infusi zat besi dengan saksama jika diberikan secara I.V, dan lihat adakah reaksi alergis. Jika pasien menunjukkan tanda reaksi semacam itu, hentikan infusi dan segera lakukan penanganan suportif. Selain itu, lihat apakah pasien mengalami pusing dan sakit kepala, dan lihat apakah terjadi tromboflebitis di sekitar tempat I.V. 
  • Gunakan metode jejak-Z saat memberikan zat besi secara I.M. untuk mencegah diskolorasi kulit, pembentukan parut, dan endapan zat besi yang mengganggu di kulit. 
  • Jelaskan pentingnya pemeriksaan teratur karena defisiensi zat besi bisa muncul lagi. 
  • Beri tahu pasien mengenai dasar-dasar makanan bernutrisi seimbang seperti daging merah, sayuran hijau, telur, gandum utuh, roti yang diperkuat zat besi, sereal, dan susu.   
  • Tekankan pentingnya zat besi profilaktik oral sesuai perintah praktisi pada individu berisiko tinggi seperti neonatus prematur, anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun, dan wanita hamil. (Anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun sebaiknya juga diberi suplemen sereal dan formula yang kaya zat besi). 
  • Kaji kebiasaan makan keluarga untuk melihat konsumsi zat besi dan catat pengaruh pola makan saat niasa kanak-kanak, pilihan makanan sesuai budaya, dan penghasilan keluarga dalam mencukupi kebutuhan nutrisi. 
  • Dorong keluarga yang kekurangan zat besi makan daging, ikan, dan unggas; padi-padian utuh dan bergizi tinggi; dan makanan kaya asam askorbat. 
  • Kaji riwayat obat pasien karena beberapa obat, misalnya enzim pankreatik dan vitamin E, bisa mengganggu metabolisme dan absorpsi zat besi, dan karena aspirin, steroid, dan obat lain bisa menyebabkan pendarahan Gl.  


Referensi

  1. Marianne Belleza RN. 2021. Iron Deficiency Anemia. Nurses Lab
  2. Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Anemia Defisiensi Zat Besi"