Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Demam Reumatik dan Penyakit Jantung Reumatik - Intervensi

Demam reumatik akut umumnya rekuren dan merupakan penyakit inflamatorik sistemik pada masa kanak-kanak yang mengikuti infeksi streptokous beta-hemolitik kelompok A. Penyakit jantung reumatik mengacu pada keterlibatan kardiak dari demam reumatik, dan bisa menyerang endokardium, miokardium, atau perikardium pada fase akut dan bisa menyebabkan penyakit valvular kronis di kemudian hari. 

Penyakit valvular akhirnya bisa mengakibatkan stenosis dan insufisiensi valvular kronis, termasuk stenosis dan insufisiensi mitral dan insufisiensi aortik. Pada anak-anak, insufisiensi mitral akan menyebabkan efek besar dari penyakit jantung reumatik. 

Terapi antibiotik jangka-panjang bisa meminimalkan rekurensi demam reumatik, sehingga mengurangi risiko kerusakan kardiak permanen dan deformitas valvular pada akhirnya. 

Asuhan Keperawatan Demam Reumatik dan Penyakit Jantung Reumatik - Intervensi
Image by https://www.myupchar.com/en on wikimedia.org

Walaupun cenderung terjadi dalam keluarga, demam reumatik bisa jadi hanya merefleksikan faktor lingkungan yang menyebabkannya. Dalam kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah, insidensi tertinggi ada pada anak-anak berusia 5 sampai 15 tahun, yang kemungkinan disebabkan oleh malnutrisi dan kondisi tempat tinggal sangat padat penduduk. 

Penyakit ini biasanya menyerang saat cuaca dingin dan lembab di musim dingin dan musim semi awal. Di Amerika Serikat, penyakit ini paling sering muncul di negara-bagian di bagian utara. 

Penyebab 

Hipersensitivitas terhadap infeksi streptokokus beta-hemolitik kelompok A.

Tanda dan gejala 

Karditis 

  • Miokarditis: lesi khas yang disebut badan Aschoff (di stadium akut), pembengkakan selular dan fragmentasi kolagen interstisial, yang menyebabkan pembentukan nodulus fibrotik dan parut interstisial progresif. 
  • Endokarditis: pembengkakan lembar katup; erosi di sepanjang garis penutup lembaran; dan endapan darah, keping darah, dan fibrin, yang membentuk vegetasi mirip-biji (biasanya menyerang katup mitral pada wanita dan katup aortik pada pria) 
  • Karditis reumatik parah: gagal jantung disertai dispnea, nyeri di kuadran kanan-atas, takikardia, takipnea, desir mitral dan aortik signifikan, batuk pendek dan tidak produktif 
  • Nodulus keras, bisa bergerak, tidak terasa perih, dan subkutaneus berdiameter sebesar 1/8" sampai 1/4" (0,5 sampai 2 cm), biasanya di dekat tendon atau tonjolan bertulang di sendi 
  • Nyeri sendi atau poliartritis yang berpindah-pindah 
  • Lesi kulit, misalnya eritema marginatum (jarang terjadi) 
  • Pembengkakan, warna merah, dan tanda efusi di lutut, pergelangan kaki, siku, atau pinggul 
  • Demam, Suhu badan setidaknya 100,4° F (38°C) 
  • Korea selintas yang ringan sampai berat dan berlangsung sampai 6 bulan setelah infeksi streptokokus awal, yang selalu sembuh tanpa menyisakan kerusakan neurologis 

  • Korea ringan: hiperiritabilitas, deteriorasi pada tulisan tangan, ketidakmampuan berkonsentrasi 
  • Korea berat: spasma otot yang tidak bermakna, tidak repetitif, dan involunter; koordinasi otot buruk; lemah 

Desir khas 

  • Desir diastolik pada insufisiensi aortik (tidak sering terjadi daripada dua tipe lainnya) 
  • Desir midsistolik yang disebabkan oleh kekakuan dan pembengkakan lembaran mitral 
  • Desir sistolik pada insufisiensi mitral (membubung-tinggi, berhembus, holosistolik, paling keras di apeks, kemungkinan memancar ke garis aksilari anterior) 

Uji diagnostik 

  • Jumlah sel darah putih dan tingkat sedimentasi eritrosit bisa naik (saat fase akut); studi darah menunjukkan anemia ringan akibat eritroporesis yang tertekan saat inflamasi.
  • Hasil uji protein reaktif-C positif (terutama saat fase akut).
  • Kadar enzim kardiak bisa naik pada penderita karditis parah.
  • Titer antistreptolisin 0 naik pada 95% pasien 2 bulan setelah serangan. (Hasil uji anti-DNase yang naik juga bisa mendeteksi infeksi streptokokus rekuren.)
  • Perubahan elektrokardiografi tidak menentukan diagnosis, tetapi interval PR lebih panjang pada 20% pasien.
  • Sinar-X dada menunjukkan ukuran jantung normal, terutama jika pasien menderita miokarditis, gagal jantung, atau efusi perikardial. 
  • Ekokardiografi membantu mengevaluasi kerusakan valvular, ukuran bilik, fungsi ventrikular, dan adanya efusi perikardial. 
  • Kateterisasi kardiak mengevaluasi kerusakan valvular dan fungsi ventrikular kiri pada penderita disfungsi kardiak parah.

Penanganan 

Pada fase akut 

  • Antibiotik dosis rendah, misalnya penisilin atau eritromisin (E-Mycin) diberikan.
  • Salisilat, misalnya aspirin, bisa membantu meringankan demam dan meminimalkan pembengkakan sendi dan nyeri. Jika terjadi karditis atau jika salisilat gagal meringankan nyeri dan inflamasi, kortikosteroid bisa digunakan. 
  • Penanganan suportif berupa istirahat total di ranjang selama sekitar 5 minggu pada penderita karditis aktif saat fase akut, diikuti aktivitas fisik yang semakin ditingkatkan, tergantung pada temuan klinis dan laboratoris serta respons pasien terhadap penanganan. 

Tindakan preventif 

  • Pasien sebaiknya terus diberi terapi antibiotik dosis-rendah untuk waktu yang tidak terbatas. tetapi terutama selama 5 sampai 10 tahun pertama setelah demam reumatik menyerang, untuk mencegah rekurensi. 
  • Pasien yang berusia lebih dari 18 tahun dan mengalami demam reumatik tanpa karditis bisa jadi hanya memerlukan antibiotik profilaktik selama 5 tahun. Antibiotik bisa dilanjutkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas bagi pasien yang sering terpapar streptokokus kelompok A. 
  • Profilaksis antibiotik tambahan dibutuhkan sebelum prosedur invasif, terutama prosedur dental dan pembedahan.

Pembedahan dan tindakan lain 

  • Gagal jantung memerlukan istirahat di ranjang dan terapi diuretik terus-menerus. 
  • Disfungsi valvular mitral atau aortik parah dan menyebabkan gagal jantung persisten membutuhkan pembedahan valvular korektif, termasuk komisurotomi (pemisahan lembaran katup mitral yang menempel dan menebal), valvuloplasti (inflasi balon ke dalam katup), atau penggantian katup (dengan katup prostetik). Pembedahan valvular korektif jarang diperlukan sebelum masa remaja akhir.

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Beri informasi pada pasien dan keluarganya mengenai penyakit ini dan penanganannya.
  • Sebelum memberi penisilin, tanyai orang tua apakah anaknya pernah mengalami reaksi hipersesitivitas terhadap penisilin. Walaupun belum pernah, ingatkan bahwa reaksi semacam itu bisa muncul.
  • Katakan pada orang tua, jika anak mengalami ruam, menggigil, atau tanda atau gejala lain dari alergi kapanpun saat menjalani terapi penisilin, mereka harus menghentikan obat dan segera menghubungi praktisi. 
  • Minta orang tua melihat dan melaporkan tanda awal dari gagal jantung, yaitu dispnea dan batuk yang pendek dan tidak produktif.
  • Tekankan perlunya istirahat di ranjang saat fase akut, dan anjurkan hiburan yang sesuai dan tidak membebani fisik.
  • Setelah fase akut, dorong keluarga dan teman menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anak untuk meminimalkan kebosanan. Sarankan orang tua memberi anak pelajaran tambahan untuk membantunya menyusul ketinggalan pelajaran di sekolah saat ia menjalani masa pemulihan yang membutuhkan banyak waktu. 
  • Katakan pada pasien bahwa ketidakberhasilan mencari penanganan infeksi streptokokus adalah hal yang biasa karena penyakit ini terlihat tidak lebih buruk daripada pilek. 
  • Jika anak mengalami karditis parah, bantu orang tua menyiapkan perubahan permanen dalam gaya hidup anak. 
  • Ingatkan orang tua untuk melihat dan segera melaporkan tanda dan gejala infeksi streptokokus rekuren—sakit tenggorokan mendadak, warna merah terdifusi di tenggorokan dan eksudat orofaringeal, nodus limfa servikal membengkak dan terasa perih, nyeri saat menelan, suhu badan sebesar 101° sampai 104° F (38,3° sampai 40° C), sakit kepala, dan mual. Minta mereka menjauhkan anak dari penderita infeksi traktus respiratorik.
  • Jelaskan pentingnya kebersihan gigi yang baik untuk mencegah infeksi gusi.
  • Pastikan anak dan keluarganya memahami perlunya menyelesaikan terapi antibiotik dan perawatan lanjutan yang membutuhkan waktu lama dan perlunya antibiotik tambahan saat pembedahan dental.
  • Susun jadwal kunjungan perawat untuk mengawasi perawatan di rumah, bila perlu.


Sumber:

Nursing. Seri Untuk Keunggulan Klinis (2011). Menafsirkan Tanda dan Gejala Penyakit. Jakarta: PT Indeks

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Demam Reumatik dan Penyakit Jantung Reumatik - Intervensi"