Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asuhan Keperawatan Cedera Tulang Belakang - Intervensi

Cedera tulang belakang meliputi fraktur, kontusi, dan kompresi kolom vertebral. Cedera tersebut biasanya disebabkan oleh trauma pada kepala atau leher. 

Bahaya yang sesungguhnya ada di komplikasi, misalnya kerusakan jaringan saraf tulang belakang yang disebabkan oleh cedera tulang belakang. Fraktur tulang belakang paling sering muncul di C5, C6, dan C7,T12, dan L1. 

Asuhan Keperawatan Cedera Tulang Belakang - Intervensi
Image by Fpjacquot on wikimedia.org

Penyebab 

  • Olah raga yang sering menyebabkan bersentuhan, misalnya sepak bola 
  • Menyelam di air dangkal 
  • Jatuh  
  • Luka akibat tembakan senapan atau tusukan 
  • Hiperparatiroidisme 
  • Mengangkat benda berat 
  • Kecelakaan sepeda motor 
  • Lesi neoplastik 

Tanda dan gejala 

  • Pada fraktur servikal, nyeri yang menimbulkan rasa perih yang tajam; pada fraktur dorsal dan lumbar, nyeri yang memancar ke area tubuh yang lain, misalnya kaki 
  • Parestesia ringan pada kuadriplegia dan syok, disertai kerusakan jaringan saraf tulang belakang, yang bisa tertunda selama beberapa hari atau beberapa minggu 
  • Spasme otot dan nyeri punggung yang memburuk saat bergerak 
  • Kompromi respiratorik disertai kerusakan C1 sampai C4 (juga disertai edema di C5 sampai C7 yang meluas ke atas) 

Uji diagnostik 

  • Sinar-X tulang belakang merupakan tindakan diagnostik yang paling penting dan menunjukkan lokasi fraktur. 
  • Pungsi lumbar bisa menunjukkan kenaikan tekanan cairan cerebrospinal akibat lesi atau trauma pada kompresi tulang belakang. 
  • Computed tomography scan atau magnetic resonance imaging bisa menunjukkan lokasi gumpalan tulang belakang. 

Penanganan 

  • Penanganan utama bagi cedera tulang belakang adalah segera melakukan imobilisasi untuk menstabilkan tulang belakang dan mencegah kerusakan jaringan saraf tulang belakang; penanganan lain adalah penanganan suportif. Cedera servikal membutuhkan imobilisasi, menggunakan kantung pasir di kedua sisi kepala pasien, penyangga leher yang kuat, atau traksi skeletal dengan jepitan tengkorak atau alat halo. 
  • Jika pasien menunjukkan tanda cedera jaringan saraf tulang belakang, beri ia methylprednisone (Solu-Medrol) dosis tinggi. 
  • Penanganan fraktur lumbar dan dorsal yang stabil terdiri dari beristirahat di ranjang yang memiliki penopang keras (misalnya papan ranjang), analgeslk, dan relaksan otot sampai fraktur stabil (biasanya 10 sampai 12 minggu). Penanganan selanjutnya meliputi latihan untuk memperkuat otot punggung dan penyangga punggung atau korset untuk memberikan topangan saat berjalan. 
  • Fraktur lumbar dan dorsal yang tidak stabil membutuhkan gips plester, kerangka berbalik, dan, di kasus parah, laminektomi dan fusi tulang belakang. 
  • Jika kerusakan menyebabkan kompresi kolom tulang belakang, bedah saraf bisa meringankan tekanan. 
  • Jika kompresi disebabkan oleh lesi neoplastik, kemoterapi dan radiasi bisa meringankannya. 
  • Luka permukaan yang menyertai cedera tulang belakang membutuhkan profilaksis tetanus kecuali jika pasien telah menerima imunisasi terbaru. 

Intervensi Asuhan Keperawatan 

  • Di semua cedera tulang belakang, curigai adanya kerusakan jaringan saraf tulang belakang sampai terbukti bahwa kecurigaan ini keliru 
  • Selama pengkajian awal dan sinar-X, lakukan imobilisasi pasien di alas permukaan keras, dengan kantung-pasir di kedua sisi kepalanya. Minta ia tidak bergerak; jangan gerakkan ia, karena hiperfleksi bisa merusak jaringan saraf. 
  • Jika Anda harus menggerakkan pasien, minta setidaknya satu anggota staf lain untuk membantu Anda melakukan logroll pasien agar kesejajaran tubuhnya tidak terganggu. 
  • Sepanjang pasien menjalani penanganan, beri ia kenyamanan dan keyakinan. lngat, ketakutan pasien terhadap paralisis yang bisa menimpanya akan terus meliputi pikirannya„ Izinkan anggota keluarga yang tidak terlalu putus asa untuk menemani pasien dan berbicara padanya dengan tenang. 
  • Jika cedera membutuhkan pembedahan beri antibiotik profilaktik lakukan kateterisasi pasien untuk menghindari retensi urin, dan pantau pola defekasi untuk menghindari impaksi. 
  • Jelaskan metode traksi pada pasien dan keluarganya, dan yakinkan mereka bahwa alat traksi tidak menembus otak. Jika pasien menggunakan alat halo dan alat traksi jepitan tengkorak, bersihkan tempat cocokan setiap hari, jaga agar rambutnya terpangkas pendek, dan beri analgesik untuk meredakan sakit kepala persisten. 
  • Selama traksi, seringkali balikkan badan pasien untuk mencegah pneumonia, embolisme, dan kerusakan kulit; lakukan latihan jangkauan-pergerakan pasif untuk menjaga tonus usus. Jika ada, gunakan ranjang rotasional otomatis untuk mempermudah proses pembalikan badan, dan untuk mendukung kecukupan ekspansi paru-paru. 
  • Balikkan badan pasien di sisinya saat memberinya makan untuk mencegah aspirasi. Ciptakan atmosfer yang tenang saat ia makan. 
  • Anjurkan aktivitas hiburan untuk mengisi jam-jam imobilisasi pasien Anda. 
  • Secara saksama, lihat adakah perubahan neurologis. Perubahan pada sensasi kulit dan hilangnya kekuatan otot bisa menunjukkan tekanan di jaringan saraf tulang belakang, yang kemungkinan disebabkan oleh edema atau pergeseran fragmen tulang. 
  • Jika kerusakan muncul di jaringan saraf tulang belakang, libatkan spesialis rehabilitasi sesegera mungkin untuk membantu menyusun perawatan pribadi yang terperinci. 
  • Sebelum pasien pulang, minta ia tetap meminum analgesik atau medikasi lain, dan tekankan pentingnya pemeriksaan lanjutan yang teratur. 
  • Untuk membantu mencegah cedera tulang belakang agar tidak menjadi cedera jaringan saraf tulang belakang, beri pengetahuan pada pemadam kebakaran, pegawai kepolisian, paramedis, dan badan publik umum mengenai cara tepat menangani cedera semacam ini. 


Pamela.C.A.et.al.2008. Nursing: Understanding Disease. Lippincott William & Wilkins : Norristown Road.

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Asuhan Keperawatan Cedera Tulang Belakang - Intervensi"