Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Resusitasi Jantung Paru Dalam Keadaan Gawat Darurat

Sampai saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah masih merupakan penyebab kematian no.1 di dunia. Semakin banyak orang yang meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan dengan penyakit lainnya. Menurut survei WHO pada tahun 2014, sekitar 17,1 juta orang meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Henti jantung mendadak merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada penyakit jantung dan pembuluh darah. Henti jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Amerika dan Kanada. Di Indonesia, menurut data riskesdas 2007, prevalensi penyakit jantung mencapai 7,2%.

Resusitasi Jantung Paru
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup jika terjadi henti jantung, harus secepatnya dilakukan bantuan hidup dasar. Tindakan ini sangat penting untuk menyelamatkan hidup penderita dan dapat dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.

Bantuan hidup jantung dasar merupakan layanan kesehatan dasar yang dilakukan terhadap pasien yang menderita penyakit jantung, sampai pasien tersebut mendapatkan pelayanan yang paripurna. Secara garis besar tindakan bantuan hidup dasar jantung dilakukan diluar rumah sakit tanpa menggunakan peralatan medis.

Kecepatan memberikan tindakan awal sangat menentukan keberhasilan pertolongan yang diberikan pada bantuan hidup dasar jantung.  Oleh sebab itu perlu dilatih sebanyak mungkin orang awam agar bisa melakukan bantuan hidup dasar jantung secara baik dan benar.

Komponen Pelaksana Bantuan Hidup Dasar

Mengingat pentingnya bantuan hidup jantung dasar dalam memperbaiki kelangsungan hidup manusia, di beberapa negara maju pelatihan sudah diajarkan dalam pendidikan sekolah oleh guru sekolah yang sudah mendapatkan pelatihan awal dari tenaga medis.

Masyarakat awam sebenarnya sudah mengenal Bantuan hidup jantung dasar dengan istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP).  Program pelatihannya bisa diajarkan ke masyarakat secara terbuka.

Dalam melaksanakan bantuan hidup jantung dasar, kita mengenal istilah penolong utama (Emergency First Responder) antara lain polisi, petugas pemadam kebakaran, petugas keamanan, dan aparat yang sudah diberikan pelatihan.

Jika memungkinkan mereka diberikan pelatihan supaya mampu menolong orang dewasa maupun  anak-anak. Selain  itu, program pelatihan bantuan hidup jantung dasar, dapat diberikan kepada tempat atau lingkungan kerja dengan resiko tinggi. Atau pada keluarga yang memiliki resiko tinggi terkena serangan jantung.

Pelayanan Kegawat Daruratan Kardiovascular (PKDK) 

Sistem pelayanan kegawat daruratan kardiovascular merupakan suatu sistem yang digunakan untuk:

  • Pengenalan tanda-tanda terkena serangan jantung atau stroke
  • Bagaiman mengaktifkan sistem layanan gawat darurat
  • Mencegah komplikasi
  • Melakukan resusitasi jantung paru sesegera mungkin
  • Penggunaan Automatic External Defibrilator pada penderita henti jantung
  • Setelah penderita stabil, sesegera mungkin dibawa ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas pelayanan Kardiovascular yang lebih lengkap.

Pertolongan juga mencakup neonatus (bayi baru lahir) dan pediatrik (anak-anak). Walaupun kebanyakan pada pediatrik atau neonatus, penyakit primer bukan terletak pada jantung maupun otak.

Bantuan Hidup Dasar

Bantuan jantung hidup dasar umumnya tidak menggunakan obat-obatan dan dapat dilakukan dengan baik setelah menjalani pelatihan singkat. Seiring dengan perkembangan pengetahuan kedokteran, maka bantuan hidup dasar yang sekarang dilaksanakan telah mengalami perbaikan serta penyempurnaan.

Pedoman  American Hearth Association tahun 2010 tentang bantuan hidup dasar dewasa. yaitu:

1. Pengenalan kondisi henti jantung mendadak berdasarkan respons pasien dan tidak adanya nafas.

2. Perintah “Look, Listen, and Feel” dihilangkan dari alogaritma bantuan hidup dasar.

3. Bantuan kompresi dada dalam melakukan resusitasi bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih

4. Perubahan urutan pertolongan bantuan hidup dasar dengan mendahulukan kompresi sebelum melakukan pertolongan bantuan nafas (C-A-B) dibandingkan denga urutan sebelumnya (A-B-C).

5. Resusitasi dilakukan sampai sirkulasi spontan kembali

6. Fokus Metode untuk meningkatkan kualitas Resusitasi Jantung Paru yang baik

7. Penyederhanaan alogaritma bantuan hidup dasar

Pada tahun 2015 dilakukan revisi lagi oleh American Hearth Association, namun tidak merubah dasar-dasar panduan sebelumnya.

Sebelum melakukan bantuan hidup jantung dasar penolong harus menguasai pengetahuan untuk menilai keadaan pasien dan teknik pemberian ventilasi buatan yang benar. Selain itu, penolong pertama harus menguasai teknik mengeluarkan obstruksi jalan nafas karena sumbatan benda asing.

Cara Melakukan Resusitasi Jantung Paru

RJP merupakan teknik penyelamatan nyawa dalam keadaan darurat, seperti serangan jantung atau keadaan lain yang menyebabkan pernafasan atau detak jantung berhenti. Tindakan ini direkomendasikan bagi semua orang, baik terlatih atau tidak terlatih. Lebih baik melakukan tindakan daripada tidak melakukan apa-apa.

Rekomendasi dari American Hearh Association:

Tidak Terlatih ---> Jika tidak terlatih dalam CPR/RJP, Berikan kompresi dada secara kontinyu dengan kecepatan 100-120 kali permenit hingga paramedis tiba.

Terlatih dan Siap ---> Jika anda terlatih dengan baik dan percaya diri dengan kamampuan anda, periksalah denyut nadi dan pernafasan. Jika tidak ada pernafasan dan denyut nadi kurang dari 10 x/menit, mulailah kompresi dada. Mulailah resusitasi  dengan 30 kompresi dada dilanjutkan dengan 2 kali nafas buatan.

Hal ini berlaku bagi orang dewasa, anak-anak, dan bayi yang membutuhkan resusitasi jantung paru. Tapi tidak untuk bayi baru lahir hingga usia 4 minggu

Kekurangan oksigen yang terjadi akibat henti jantung dapat menyebabkan kerusakan otak dalam hitungan menit dan menyebabkan kematian dalam 8 sampai 10 menit.

Yang Perlu di perhatikan Sebelum memulai RJP

  • Apakah kondisi lingkungan Aman
  • Cek apakah orang tersebut sadar atau tidak
  • Jika orang tersebut tampak tidak sadar, tepuk dan goyangkan bahunya serta panggil dengan keras
  • Jika orang tersebut tidak merespon dan kita bersama orang lain juga, satu orang menelpon 911 atau nomor darurat lokal, dan 1 orang lagi memulai Resusitasi.
  • Jika anda sendiri dan memiki akses langsung ke telpon, hubungi 911 atau nomor darurat lokal sebelum memulai RJP.

Ingatlah prinsip C - A - B.

American Heart Association menggunakan ingkatan CAB yang aritnya: Circulation (Sirkulasi/kompresi) - Airway (Jalan Nafas) - Breathing (Pernafasan). Untuk membantu mengingat orang yang melakukan resusitasi jantung paru.

Kesimpulan

Langkah langkah kritis yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan bantuan hidup dasar adalah pengenalan keadaan serta aktivasi sistem gawat darurat segera, RJP Segera, dan Defibrilasi Segera.

Tindakan ini harus dilakukan oleh orang disekitar yang paling dekat jika menyaksikan seseorang yang tidak sadarkan diri secara mendadak. Untuk kondisi ini, RJP merupakan tindakan yang tidak berbahaya. Lebih berbahaya jika penolong tidak bertindak apa-apa.

Kualitas RJP harus diperhatikan. Kompresi dada harus dikerjakan dengan baik dengan cara menekan cepat dan kuat dibagian tengah dari dinding dada. Petugas kesehatan memegang peranan yang penting dalam perkembangan sistem pelayanan kegawat daruratan kardiovascular, mahir dalam memberikan bantuan hidup dasar pada berbagai kondisi klinis, serta memberikan pendidikan kepada masyarakat.


Sumber: IDI-PP Perki (2019), Buku Ajar Kursus Bantuan Hidup Jantung Dasar, Jakarta

Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners
Ida Radliyatul Fahmi, S.Kep., Ners Perawat Ruang Cardio Vascular Care Unit (CVCU) RSUD Provinsi NTB

Posting Komentar untuk "Resusitasi Jantung Paru Dalam Keadaan Gawat Darurat"