bR7izkJOiKy1QUHnlV5rpCDjiDlVyiP6q1XpDxAH
Bookmark

Melawan Covid-19 dengan Bahagia dan Menghindari Stress

Menghindari stress dan menjaga fikiran agar tetap positif merupakan salah satu kunci melawan covid 19. Demikian pernyataan Satgas penanganan Covid 19. 

Kondisi bahagia akan memicu peningkatan daya tahan tubuh, sehingga membantu penyembuhan dan meminimalkan gejala dalam melawan covid 19.

Apakah sesederhana itu ? 

Melawan Covid-19 dengan Bahagia dan Menghindari Stress

Cara Sistem Imun Melawan Covid-19

Untuk lebih jelasnya mungkin kita lihat dulu secara fisiologis bagaimana sistem pertahanan tubuh bekerja. 

Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar seperti bakteri, virus, Jamur dan benda asing  yang membahayakan tubuh, termasuk melawan covid 19. Kalau tubuh manusia diibaratkan negara, sistem imun adalah tentaranya. 

Secara Umum Ada Tiga Fungsi Utama Sistem Imun 

Kemampuannya untuk mengenali benda-benda asing seperti virus, parasit, jamur, dan lain lain. Fungsi ini sangat penting karena sebagai  “tentaranya” tubuh dia harus bisa membedakan mana kawan mana lawan termasuk dalam melawan covid 19.

Sistem imun bisa bertindak secara khusus menghadapi serangan masing-masing.  Seperti penangan keamanan negara oleh tentara. Menghadapi teroris tentu beda protapnya dengan menghadapi invasi negara asing.

Sistem imun akan mengingat penyerang-penyerang asing itu sehingga jika terjadi serangan ulang akan lebih cepat di tolak atau dinetralisir. 

Jika sistem imun bekerja optimal, dia akan bisa melindungi dari infeksi virus dan bakteri, termasuk juga melawan, menghancurkan zat asing seperti melawan covid 19 dalam tubuh dan sel kanker.

Jika sistem imun melemah, maka kemampuan untuk melindungi tubuh akan berkurang sehingga  invasi penyakit akan mudah terjadi .

Sistem pertahanan tubuh manusia terdiri dari dari 2 jenis, yaitu sistem imun non spesifik dan sistem Sistem imun sepesifik. 

Sistem imun Non spesifik (ada yang menyebutnya natural atau innate) sudah ada dan berfungsi   sejak lahir. 

Sedangkan Sistem imun spesifik berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. Makanya banyak yang menyebut sistem imun spesifik ini sebagai sistem imun adaptif atau acquired.

Dalam berespon, sistem imun non spesifik berespon dengan cara yang sama jika terjadi serangan ulang. Tapi sistem imun spesifik akan berespon lebih efisien karena adanya sel memori. 

Biar lebih gampang, kita bahas satu-satu.

Sistem Imun Non Spesifik

Sistem imun Non Spesifik merupakan lini pertama pertahanan tubuh. Disebut non spesifik, karena ia kan bereaksi terhadap apapun yang sekiranya bisa mengancam tubuh. 

Tidak perduli jenisnya apakah bakteri, virus, jamur, rictesia dan sebagainya. Intinya apapun yang bersifat patogen akan disikat oleh sistem imun non spesifik.

Sestem imun non spesifik teridiri dari:

  • Penghalang Fisik seperti kulit dan  jaringan mukosa
  • Penghalang Kimiawi seperti asam lambung 
  • Sel Fagosit (pemakan) seperti neutrofil, makrofag, dan NK cell
  • Mediator inflamasi dan sistem komplemen lainnya yang merupakan bagian dari protein darah. 
  • Protein Sitokin yang mengatur sel pada mekanisme ini.

Sistem imun non spesifik akan mengenali struktur mikroba yang masuk dan membedakannya dengan sel tubuh sendiri. Bisa karena mikroba tersebut pernah menginfeksi, atau karena struktur mikroorganisme tersebut mirip dengan struktur mikroorganisme lain yang pernah menginfeksi tubuh sebelumnya.

Kelemahan dari mekanisme kerja sistem bawaan adalah tidak dapat menenali struktur mikroorganisme yang sama sekali baru menginfeksi tubuh. Pada kasus sekarang Virus Covid-19 merupakaan contoh jenis mikroorganisme yang baru, sehingga kemungkinan sulit untuk dikenali Sistem imun non spesifik.

Untuk infeksi ini, sistem imun spesifiklah  yang akan nanti berperan.

Sistem Imun Spesifik 

Sistem imun spesifik akan bereaksi ketika sistem imun non spesifik gagal menghalau infeksi biasanya karena mikroorganisme yang masuk merupakan jenis yang sama sekali baru sehingga tidak dapat dikenali. 

Mekanisme pembentukan  ini terjadi sekitar 1-5 hari ada juga literatur yang menyatakan 1-7 hari. Secara singkat, mekanisme ini akan mencoba membuat pemetaan untuk Data Base baru “ingatan” mengenai struktur mikroorganisme tersebut. Kemudian bereaksi menghalau mikroorganisme tersebut.

Seperti pada saat tubuh melawan covid 19. Begitu tubuh terinfeksi virus covid 19, sistem imun akan melakukan pemetaan struktur virus. Kemudian akan di di simpan dalam cell memory. Jika pada serangan pertama kita selamat, maka pada serangan virus berikutnya akan lebih cepat dinetralisir oleh antibodi, karena struktur dan pola virus sudah dikenali tubuh.

Jenis Sel yang terlibat dalam mekanisme ini adalah sel limfosit, yaitu sel limfosit T dan sel limfosit B.

Sistem imun spesifik dibagi menjadi 2, yaitu:

Imunitas humoral

Imunitas Humoral adalah  kekebalan yang dihasilkan oleh limfosi B dengan membentuk molekul didalam darah yang disebut "Antibodi". Limfosit B akan mengenali benda asing tersebut lalu membentuk antibodi. 

Antobodi merupakan molekul yang akan menempel pada molekul permukaan benda asing tersebut (antigen).  Kemudian menonaktifkan benda asing tersebut, atau meberi sinyal kepada sel-sel fagosit untuk memakannya.

Imunitas Seluler

Imunitas seluler  ini dimediasi oleh limfosit T. Dimana limfosit T akan menginduksi fagositosis benda asing tersebut atau melisiskan sel yang terinfeksi sehingga benda asing bisa keluar lalu di non aktifkan oleh Antibodi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Imun

1. Faktor Anatomi 

Kulit dan selaput mukosa yang melapisi permukaan tubuh merupakan lini pertama  sistem pertahanan. Keutuhan jaringan ini berperan sebagai penghalang fisik masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh.

Adanya kerusakan kulit dan selaput lendir akan memudahkan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh.

2. Faktor Usia 

Semakin tua usia, kemampuan sistem imun cenderung akan menurun. Hal ini disebabkan karena terjadinya degenerasi dan kemunduran biologik, seperti menyusutnya kelenjar timus. Pada usia lanjut, resiko timbulnya penyakit akan meningkat, meliputi penigkatan resiko penyakit autoimun, keganasan, termasuk resiko terinfeksi virus dan bakteri.

Ini juga salah satu faktor kenapa orang tua lebih terdampak dan bergejala lebih berat jika terkena infeksi virus covid-19. Ditambah lagi, adanya penyakit-penyakit komorbid yang sudah diderita sebelum terinfeksi covid-19, seperti diabetes melitus, penyakit jantung, Hipertensi, dan lain-lain.

3. Faktor Gizi

Asupan gizi sangat mempengaruhi kualitas pertahanan tubuh . Tubuh membutuhkan komponen dasar untuk pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan dasar. 

Gizi yang cukup dan sesuai sangat penting agar sistem imun bisa berfungsi dengan baik. Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab utama rendahnya daya tahan tubuh.

4. Faktor Metabolik

Beberapa hormon dapat mempengaruhi respon sistem imun manusia. Seperti keadaan hipoadrenal atau hipotiroidisme akan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh terhadap infesi. 

Hormon lain seperti androgen, estrogen, dan progesteron juga dikaitkan dengan kemampuan respon imun tubuh manusia. 

Termasuk hormon stres yaitu kortisol juga terindikasi mempengaruhi kerja kelenjar timus dalam pembentukan antibodi.

5. Faktor Lingkungan  

Peningkatan infeksi biasanya terjadi pada masyarakat dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang mampu. Hal ini diduga akibat kondisi lingkungan dan sanitasi yang tidak baik sehingga meningkatkan kemungkinan perkembangan mikroorganisme di lingkungan tersebut.

Kembali ke topik Awal

Lalu Apa hubungannya kebahagiaan dengan daya tahan tubuh.

Pada kondisi bahagia, tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin.   Hormon ini sebenarnya berperan seperti morfin namun diproduksi oleh tubuh sendiri. Efeknya adalah mengurangi nyeri, meningkatkan mood, dan mengurangi stres.  

Endorfin juga bisa menciptakan perasaan tenang dan damai termasuk juga meningkatan euforia.

Produksi hormon endorfin akan meningkat saat seseorang merasa bahagia dan mendapat istirahat yang cukup.  

Dari segi ketahanan tubuh, hormon endorfin dapat meningkatkan pembentukan Natural Killer Cell. Endorfin juga membantu meningkatkan kinerja sel-sel limfosit dalam pembentukan antibodi sehingga akan membantu melawan covid 19.

Artinya memang secara fisiologis, harusnya orang-orang yang bahagia, paling tidak bisa lebih cepat sembuhnya dari yang lain. Atau paling tidak munculnya gejala akibat terkena virus covid 19 lebih minim pada orang-orang tersebut.

Jadi menyikapi pandemi ini dengan sewajarnya saja. Jangan bersikap cuek dan lalai, tapi jangan juga takut dan cemas berlebihan.

Takut dan kecemasan yang berlebihan akan memicu kondisi stress fisik dan mental. Kondisi stress akan memicu reaksi syaraf simpatis  dan  produksi hormon hormon yang berdampak buruk bagi kesehatan seperti hormon kortisol.

Kondisi ini tentu tidak baik bagi kesehatan tubuh, dan tentunya stres akan berdampak juga menurunkan sistem imun. Pada akhirnya penurunan sistem imun ini akan meningkatkan kerentanan terinfeksi Virus Covid-19.

Seperti Kata tim satgas, hindari stress dan tetaplah bahagia.

Tetap Harus Patuhi Protokol Kesehatan

Walaupun bisa di simpulkan bahwa optimisme dan kebahagian juga berpengaruh terhadap kesembuhan dan ketahanan terhadap covid-19. Tapi ini hanya salah satu faktor saja.

Banyak faktor lain yang juga ikut terlibat mempengaruhi penyebaran, penularan, gejala klinis yang timbul, dan proses penyembuhan virus Covid 19. 

Jadi, disamping meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh, usaha untuk melawan covid 19 adalah dengan tetap berusaha bahagia dan menghindari stress dalam menghadapi suasana pandemi saat ini, segala usaha lain tetap harus di jalankan. 

Kita harus tetap patuh, tidak boleh lalai  dengan Protokol kesehatan yang telah ditetapkan Pemerintah. Prinsip 5 M harus tetap dijalankan. 

M1 ---> Mencuci Tangan
M2 ---> Memakai Masker
M3 ---> Menjaga Jarak
M4 ---> Membatasi Mobilitas dan Interaksi
M5 ---> Menjauhi Kerumunan

Kesimpulan

Kondisi pandemi yang berlarut larut, menimbulkan dampak yang signifikan terhadap segala aspek kehidupan kita, baik secara individu, keluarga, dan masyarakat. 

Entah ini konspirasi atau tidak, tapi faktanya sudah banyak korban berjatuhan. Tugas kita, termasuk penulis sebagai salah satu dari bagian tenaga kesehatan adalah terus menghadapinya dengan segala sumber daya yang kita miliki.

Seperti sudah berada dalam medan perang, pilihannya hanyalah beradaptasi, menyusun strategi, lalu berperang habis habisan.  

Berita gembiranya sekarang Vaksin sudah mulai diberikan ke masyarakat. Artinya harapan semakin terang bahwa pandemi ini akan segera berakhir.

Jadi tetaplah menjaga semangat, jaga mood dan bahagia, sertaTetap Patuhi protokol kesehatan.