Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tindakan Keperawatan Anemia Aplastik dan Hipoplastik

Anemia aplastik dan hipoplastik terjadi akibat cedera atau obstruksi sel induk di matriks sumsum tulang, yang menyebabkan paniktopenia (anemia, granulositopenia, trombositopenia) dan hipoplasia sumsum tulang. Anemia aplastik dan hipoplastik mengacu pada penurunan kapasitas fungsional sumsum tulang belakang.

Gangguan ini biasanya menyebabkan pendarahan atau infeksi fatal, terutama jika idiopatik atau berasal dari penggunaan chloramophenicol atau dari hepatitis menular. Mortalitas penderita anemia aplastik yang disertai paniktopenia akut adalah 80% sampai 90%.

Tindakan Keperawatan Anemia Aplastik dan Hipoplastik
Gambar: flickr.com

Penyebab 

  • Kongenital, dimana anemia hipoplastik kongenital yang berkembang saat penderita berusia 2 sampai 3 bulan, dan sindrom Fanconi yang berkembang saat penderita lahir sampai berusia 10 tahun. Hal ini bisa muncul akibat bawaan genetik atau adanya gangguan selama perkembangan fetus. 
  • Adanya kerusakan mikro vascular pada sumsung tulang belakang yang mengganggu pertumbuhan dan pematangan sel. 
  • Kerusakan atau kehancuran sel induk menghambat produksi sel darah merah (red blood cell  - RBC) 
  • Obat-obatan seperti golongan antibiotik dan antikonvulsan 
  • Faktor imunologik  yang tidak bisa dipastikan
  • Infiltrasi pre leukemik dan neoplastik sumsum tulang 
  • Radiasi 
  • Penyakit parah (terutama hepatitis) 
  • Agens toksik (misalnya benzene, chloramphenicol)

Tanda dan gejala

  • Ekimosis dan petekia, jika terjadi trombositopenia 
  • Sakit kepala 
  • Neutropenia, kemungkinan menyebabkan infeksi disertai demam, ulser oral dan rektal, dan sakit tenggorokan namun tanpa inflamasi khas 

  • Pucat 
  • Lemah dan letih progresif 
  • Sesak napas 
  • Takikardia 
  • Trornbositopenia (mudah memar dan berdarah, terutama dari selaput lendir  seperti hidung, gusi, rektum,  atau pendarahan ke dalam retina atau sistem saraf pusat 

Uji diagnostik 

Kepastian adanya anemia aplastik membutuhkan rangkaian uji laboratorium: 

  • Sel darah merah (RBC) biasanya normokromik dan normositik, walaupun bisa terjadi makrositik (eritrosit yang lebih besar daripada normal) dan anisositosis (ukuran eritrosit yang terlalu bervariasi), yang jumlah totalnya 1 juta/p.I atau kurang. Jumlah retikulosit absolut sangat sedikit.
  • Kadar besi serum naik kecuali jika terjadi pendarahan. Namun kapasitas mengikat besi total normal atau sedikit berkurang. Ada hemosiderin, dan penyimpanan besi jaringan bisa dilihat melalui mikroskop. 
  • Jumlah keping darah, neutrofil, dan sel darah putih berkurang. 
  • Hasil uji koagulasi atau pembekuan saat pendarahan, yang menunjukkan berkurangnya jumlah keping darah secara abnorrnal
  • Pada aspirasi sumsum tulang dari beberapa tempat bisa menghasilkan "dry tap," dan biopsi akan menunjukkan hiposelular atau sumsum aplastik dengan jelas, dengan lemak, jaringan fibrosa, atau penggantian bergelatin yang jumlahnya bervariasi. Tidak adanya zat besi yang terikat karena zat besi terendap di hati, bukan di sumsum tulang. Dan megakariosit serta depresi elemen eritroid.

Penanganan

  • Penyebab yang bisa diidentifikasi harus dielimiinasi.
  • Beri transfusi RBC dan keping darah kemasan.
  • Leukosit manusia yang sesuai dengan leukosit antigen atau globulin digunakan sendiri atau dengan siklosporin untuk anak-anak dan pasien yang mengalami neutropenia parah. 
  • Lakukan transplantasi sumsum tulang untuk aplasia parah dan bagi pasien yang membutuhkan transfusi RBC konstan. 
  • Beri antibiotik pada kasus infeksi 
  • Beri dukungan respiratorik dengan oksigen.
  • Gunakan kortikosteroid untuk menstimulasi produksi eritrosit. Hal ini bisa berhasil  pada anak-anak namun tidak pada orang dewasa.
  • Agens yang menstimulasi sumsum, misalnya androgen  bisa diberikan. 
  • Globulin anti limfosit bisa diberikan.
  • Imunosupresan bisa diberikan jika pasien tidak merespons terapi lain. 
  • Faktor yang menstimulasi koloni digunakan untuk mendorong pertumbuhan komponen selular khusus.

Tindakan keperawatan 

  • Jika keping darah sedikit kurang dari 20.000/p.1, cegah hemoragi atau perdarahan dengan menghindari injeksi I.M dalam pemberian obat
  • Sarankan penggunaan pisau cukur listrik dan sikat gigi yang lembut untuk mencegah iritasi
  • Jaga kelembaban oksigen untuk mencegah kekeringan selaput lendir 
  • Cegah konstipasi dengan menggunakan pelunak faeces dan makanan yang tepat .
  • Beri tekanan di tempat venapungsi sampai pendarahan berhenti.

  • Deteksi pendarahan sejak dini dengan memeriksa adakah darah di urin dan tinja dan periksa kulit untuk mengetahui adakah petekia.

  • Bantu mencegah infeksi dengan membersihkan tangan secara menyeluruh sebelum masuk ke kamar pasien

  • Pastikan bahwa pasien mengkonsurnsi makanan benutrisi (yang kaya vitamin dan protein) untuk meningkatkan resistansinya, dan mendorongnya membersihkan mulut dan perianal dengan teliti. 

  • Lihat adakah hemoragi, infeksi, reaksi merugikan terhadap terapi obat, dan reaksi transfusi darah yang mengancam jiwa.
  • Pastikan kultur tenggorokan, urin, nasal, rektal, dan darah dilakukan secara teratur dan periksa dengan teliti untuk memastikan adanya infeksi. Minta pasien mengenali dan segera melaporkan tanda infeksi.
  • Jadwalkan periode istirahat yang banyak, jika kadar hemoglobin pasien rendah akan membuatnya letih. 
  • Jika perlu dilakukan transfusi darah, waspadai reaksi transfusi dengan memeriksa suhu pasien dan lihat adakah tanda dan gejala lain, misalnya ruam, hives, rasa gatal, nyeri punggung, rasa gelisah, dan gemetar serta menggigil.
  • Yakinkan kembali dan dukung pasien dan keluarganya dengan menjelaskan penyakit dan penanganannya, terutama jika pasien mengalami episode akut kembali. 

  • Jelaskan mengenai tujuan semua obat yang diberikan, dan diskusikan reaksi merugikan yang bisa muncul, termasuk reaksi apa yang sebaiknya segera dilaporkan. 

  • Jika pasien diberi obat yang menyebabkan anemia, pantau hasil studi kimiawi terhadap darahnya secara saksama untuk mencegah anemia aplastik.
  • Dukung upaya untuk mendidik publik mengenai bahaya agens toksik. Minta orangtua menjauhkan agens toksik dari jangkauan anak-anak.
  • Dorong orang-orang yang bekerja dengan radiasi memakai pakaian pelindung dan tanda pendeteksi radiasi dan melakukan tindakan pencegahan yang aman.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Tindakan Keperawatan Anemia Aplastik dan Hipoplastik"