Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) Pada Anak

Beban penyakit untuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) diperkirakan mencapai 3,9 juta angka kematian.  ARI (Acute Respiratory Inspection) adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun. Sebuah studi meta-analisis menunjukkan bahwa di seluruh dunia 1,9 juta anak-anak meninggal akibat ISPA pada tahun 2010 , 70%  dari mereka berasal dari Afrika dan Asia Tenggara. 

ISPA merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah 5 tahun (balita), yaitu sekitar 19% atau sekitar 1,8 juta balita tiap tahunnya meninggal karena pneumonia. Dan seperti yang kita ketahui Pnemonia merupakan salah satu penyakit system pernapasan yang berawal dari ISPA yang hanya di biarkan tanpa diobati. Angka ini melebihi jumlah akumulasi kematian akibat malaria, AIDS, dan campak. Diperkirakan lebih dari 150 juta kasus pneumonia terjadi setiap tahunnya pada balita dinegara berkembang, yaitu sekitar 95% dari semua kasus baru pneumonia di dunia. 

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Insidens menurut kelompok umur Balita diperkirakan berjumlah 156 juta episode baru di dunia per tahun, dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) dan Bangladesh, Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta episode. Hal ini diperkirakan karena peran antibiotik, vaksinasi, dan asuransi kesehatan anak di negara berkembang masih kalah dibandingkan dengan negara maju. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun. 

Di Indonesia ISPA masih mendapat perhatian cukup besar. Antara 40-60% kunjungan di puskesmas adalah karena ISPA. ISPA dibagi menjadi pneumonia dan nonpneumonia. Penyakit ISPA yang menjadi fokus programkesehatan adalah pneumonia karena merupakan salah satu penyebab utama kematian anak.


Definisi 

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. 

ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas.

Disebut satu episode baru bila tanda dan gejala terjadi sekurang-kurangnya setelah 48 jam bebas gejala dan satu episode berlasung tidak lebih dari 14 hari dan ISPA diebut berulang apabila sebelumnya ditemukan gejala ISPA sakit demam, batuk, flu pilek dan sesak nafas dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. 

Tanda Gejala ISPA

1. Sakit perut

  • Sering Komplain
  • Kadang-kadang tidak bisa dibedakan dari sakit radang usus buntu
  • Mesentric lymphadenitis yang menyebabkan keram jaringan dari muntah sebagai faktor penyebabnya, trutama gelisah dan tensi anak

2. Halangan Bunyi Sengau 

  • Bunyi sengau yang kecil pada bayi dengan mudah menghalangi bengkaknya jaringan dan eksudat 
  • Dapat menghalangi pernafasan dan pemberian makan bayi bisa berkontribusi untuk berkembangnya mediaotitis dan sinusitis
  • Pemberhentian bunyi sengau : frekuensi jarang muncul bisa kecil dan basah atau serak dan berdahak 
  • Mempengaruhi tipe dan tingkat infeksi
  • Bisa mengiritasi diatas dan kulit sekeliling hidung

3. Batuk

  • Sering muncul
  • Bisa hanya selama fase akut
  • Bisa menyerang beberapa bulan setelah sakit

4. Suara Pernafasan

Suara berhubungan dengan penyakit pernafasan : Batuk, serak, Mendengkur, Stridor, Mendesah

5. Luka tenggorokan

  • Frekuensi komplain pada anak dewasa 
  • Anak kecil tidak mampu mengambarkan gejalanya, tidak bisa komplain saat inflamasi tinggi
  • Sering anak menolak cairan oral atau padat

6. Hati

  • Terjadi pada bayi yang baru lahir. Membesar pada umur 6 Bulan – 3 tahun. Suhu bisa mencapai 39,5 ° - 40,5 °C seperti infeksi halus
  • Sering muncul pada tanda awal infeksi
  • Menjadi lesu dan iritasi atau sesuatu yang euphoria dan banyak aktif dari pada normal, temporer, beberapa anak-anak berbicara tidak biasa dengan cepat.
  • Suhu yang tinggi cenderung meningkat dengan infeksi yang lebih familier

7. Sumsum tulang belakang

  • Gejala meninges tanpa infeksi meninges yang muncul dengan serangan kasar pada hati
  • Berhubungan dengan sakit kepala, sakit dan kaku pada punggung dan leher
  • Munculnya kernig
  • Turunnya suhu tubuh secara drastis

8. Anoreksia

Muncul pada anak-anak yang sakit, frekuensi bukti penyakit terlihat

9. Muntah

  • Anak kecil sering muntah pada waktu sakit 
  • Sebagai petunjuk untuk infeksi kasar 
  • Biasanya hidupnya pendek, tetapi bisa tahan selama sakit.

10. Diare

Biasanya halus/cair diare sementara tetapi membuat beberapa sering berhubungan dengan virus infeksi pernafasan yang berfrekuensi dapat menyebabkan dehidrasi.

Klasifikasi ISPA

Karena  bentuk  ISPA  yang  paling  sering  menyebabkan  kematian balita adalah pneumonia maka klasifikasinya dan dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas 2 kelompok menurut Warung Masyrakat Informasi Indonesia  sebagai berikut : 

  1. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, klasifikasi dibagi atas : pnemonia berat, pnemonia dan bukan pneumonia 
  2. Kelompok  umur <  2 bulan, klasifikasi  dibagi  atas  :  pnemonia  berat dan bukan pneumonia.

Etiologi 

Jumlah penderita infeksi pernafasan akut biasanya pada anak. Etiologi dan infeksinya mempengaruhi umur anak, musim, kondisi tempat tinggal, dan masalah kesehatan yang ada.

1. Agen penginfeksi

Sistem pernafasan menjadi terpengaruh oleh bermacam-mcam organisme terinfeksi. Banyak infeksi yang disebabkan oleh virus, terutama respiratory syntial virus (RSV). Agen lain melakukan serangan pertama atau kedua melibatkan grup A Beta-hemolytic Streptococus, Staphylococci, Haemophilus influenza, Chlamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococci. 

2. Umur

Bayi umur dibawah 3 bulan mempunyai angka infeksi yang rendah, karena fungsi pelindung dari antibody ibu. Infeksi meningkat pada umur 3-6 bulan, pada waktu itu antara hilangnya antibody keibuan dan produksi antibody bayi itu sendiri. Sisa infeksi dri virus berkelanjutan pada waktu balita dan pra sekola. 

Pada waktu anak-anak berumur 5 tahun, infeksi pernafasan yang disebabkan virus berkurang frekuensinya, tetapi pengaruh infeksi mycoplasma pneumonia dan grup A Beta-hemolytic Streptococus meningkat. Jumlah jaringan linfa meningkat seluruhnya pada masa anak-anak dan diketahui berulang-ulang meningkatkan kekebalan pada anak yang sedang tumbuh dewasa. 

Beberapa agen virus membuat sakit ringan pada anak yang lebih tua tetapi meyebabkan sakit yang hebat disistem pernafasan bagian bawah atau batuk asma pada balita. Sebagai contoh, batuk rejan secara relative pada trakaebronkhitis tidak berbahaya pada masa kanak-kanak namun merupakan penyakit serius pada masa pertumbuhan.

3. Ukuran

Ukuran anatomi mempengaruhi respon infeksi sistem pernafasan. Diameter saluran pernafasan terlalu kecil pada anak-anak akan menjadi sasaran radang selaput lender dan peningkatan produksi sekresi. Disamping itu jarak antara struktur dalam sistem yang pendek pada anak-anak, walaupun organisme bergerak dengan cepat kebawah sistem pernafasan yang mencakup secara luas. Pembuluh eutachius relative pendek dan terbuka pada nak kecil dan anak muda yang membuat pathogen mudah untuk masuk ketelinga bagian tengah.

4. Daya Tahan

Kemampuan untuk menahan organisme penyerang dipengaruhi oleh banyak faktor. Kekurangan sistem kekebalan pada anak beresiko terinfeksi. Kondisi lain yang mengfurangi daya tahan tubuh adalah malnutrisi, anemia, kelelahan, dan tubuh yang menakutukan. Kondisi yang melemahkan pertahanan pada sistem pernafasan dan cenderung yang menginfeksi melibatkan alergi,, asma, kelainan jantung yang disebabkan tersumbatnya paru-paru dan cytic fibrosis. Partisipasi hari perawata, khususnya jika pelaku perokok, juga meningkatkan kemungkinan terinfeksi.

5. Variasi Musim

Banyaknya pathogen pada sistem pernafasan yang muncul dalam wabah selama bulan musim semi dan dingin, tetapi infeksi mycoplasma sering muncul pada musim gugur dan awal musim semi. Infeksi yang berkaitan dengan asma (seperti asma bronchitis) frekuensi banyak muncul pada musim dingin. Muim dingin dan semi adalah tipe Musin Respiratory Syntial Virus (RSV)

Penanganan 

Gejala utama dapat berupa batuk dan demam, kalau berat dapat disertai sesak napas, nyeri dada dan lain-lain. Penanganannya meliputi : 

  1. Istirahat
  2. Pengobatan simtomatis sesuai gejala, 
  3. Mungkin diperlukan pengabatan kausal untuk mengatasi penyebab, meningkatkan daya tahan tubuh, 
  4. Mencegah penularan pada orang sekitar, antara lain dengan menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan dan lain sebagainya. 

Pengobatan

  1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan sebagainya. 
  2. Pneumonia: diberi obat antibiotik  
  3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam  diberikan  obat  penurun panas. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik.

Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) Pada Anak"