Pubertas adalah fase perkembangan biologis alami yang menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja. Pada umumnya, proses ini umumnya dimulai pada usia 9–14 tahun. Meskipun demikian, setiap anak memiliki waktu perkembangan yang unik dan bisa bervariasi pada setiap orang (CDC, 2023). Pada fase ini terjadi perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang signifikan.
| image from pxhere.com |
Di Indonesia, proporsi anak laki-laki yang berada di fase pubertas tergolong besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk usia 10–19 tahun mencapai sekitar 45 juta jiwa atau sekitar 16% dari total populasi nasional (BPS, 2023). Proporsi remaja laki-laki hampir setengah dari kelompok tersebut. Artinya, jutaan keluarga Indonesia sedang atau akan menghadapi fase pubertas anak laki-laki.
Dalam konteks bonus demografi, kualitas kesehatan remaja hari ini menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kurangnya pemahaman orang tua atau anak itu sendiri tentang “tanda pubertas anak laki-laki” dapat menyebabkan kecemasan, miskonsepsi, bahkan gangguan kesehatan mental. Edukasi yang tepat membantu orang tua mendampingi anak menjalani masa pubertasnya dengan lebih percaya diri dan empatik.
Apa Itu Pubertas?
Secara medis, pubertas adalah proses maturasi atau pematangan biologis ketika tubuh mulai mampu bereproduksi akibat aktivasi sistem hormonal (Tortora & Derrickson, 2021). Pada anak laki-laki, proses ini dikendalikan oleh sumbu “hipotalamus–hipofisis–testis”. Pubertas secara sederhana bisa digambarkan sebagai fase peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa.
Peran Hormon Pubertas
Proses Pubertas dimulai ketika hipotalamus di otak melepaskan hormon GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormone). Hormon ini merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan:
- LH (Luteinizing Hormone)
- FSH (Follicle-Stimulating Hormone)
Kedua hormon tersebut kemudian merangsang testis untuk memproduksi hormon testosteron, hormon utama yang bertanggung jawab atas perubahan fisik remaja laki-laki secara signifikan (Hall, 2021).
Mengapa Waktu Pubertas Berbeda?
Beberapa factor bisa memengaruhi usia pubertas anak laki-laki, baik faktor internal maupun eksternal, antara lain:
- Genetik
- Status gizi
- Kondisi kesehatan
- Lingkungan sosial
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa masalah gizi masih terjadi pada remaja Indonesia. Stunting dan kekurangan gizi dapat memperlambat fase pubertas pada remaja, sedangkan obesitas dapat mempercepat onset pubertas (Kemenkes RI, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa status gizi remaja Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan hormon pubertas.
Tanda-Tanda Awal Pubertas pada Anak Laki-Laki
Perubahan Fisik
Berikut adalah tanda pubertas anak laki-laki yang biasanya akan muncul dan terlihat pada aspek fisik:
Growth Spurt (Lonjakan Pertumbuhan)
Anak laki-laki akan mengalami peningkatan tinggi badan yang cepat, biasanya terjadi di usia 12–16 tahun. Rata-rata pertambahan tinggi bisa mencapai 7–12 cm per tahun (CDC, 2023).
Perubahan Suara
Suara menjadi lebih berat akibat pembesaran laring dan penebalan pita suara yang dipicu oleh hormon testosteron.
Pertumbuhan Rambut Tubuh
Rambut mulai tumbuh di beberapa area tertentu pada tubuh, seperti area ketiak, wajah (kumis), dan sekitar area reproduksi. Ini merupakan bagian normal dari perubahan hormonal. Pada beberapa remaja, mulai terjadi pertumbuhan bulu halus pada tangan, kaki, atau area dada.
Perkembangan Organ Reproduksi
Testis dan penis mengalami peningkatan ukuran secara bertahap. Proses perubahan ukuran organ reproduksi ini terjadi alami dan bertahap sesuai tahapan perkembangan dan menunjukan sudah mulai aktifnya proses spermatogenesis, yang artinya remaja tersebut sudah masuk fase reproduktif.
Jerawat
Memasuki fase pubertas, hormon testosteron akan meningkatkan aktifitas kelenjar sebasea yang memproduksi sebum atau minyak. Peningkatan produksi minyak pada kulit akibat hormon pubertas dapat menyebabkan jerawat.
Perubahan Emosional
Perubahan hormon yang dialami remaja pada saat pubertas tidak hanya mempengaruhi aspek fisik. Perubahan tersebut juga memengaruhi emosi dan perilaku.
Beberapa perubahan yang sering terjadi:
- Mood yang berfluktuasi, tidak stabil, sering naik turun.
- Menjadi lebih peka dan sensitif terhadap kritik
- Membutuhkan ruang probadi dan privasi yang meningkat
- Mulai mencari identitas diri, menyukai lawan jenis atau jatuh cinta
Menurut data WHO, diperkirakan sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental (WHO, 2022). Di Indonesia, laporan Kemenkes juga menunjukkan peningkatan keluhan kecemasan dan stres pada remaja pascapandemi.
Oleh karena itu, memahami aspek psikologis remaja khususnya oleh orang tua sama pentingnya dengan memahami perubahan fisik. Kepekaan orang tua dalam menghadapi dinamika psikologis yang sedang dialami oleh remaja yang sedang dalam fase pubertas sangat penting.
Tahapan Pubertas Secara Umum
Tahap perkembangan pubertas umumnya dibagi dalam 5 tahap berdasarkan klasifikasi Tanner (NIH, 2022):
- Tahap 1 (Pra-pubertas): Belum ada perubahan.
- Tahap 2 (9–11 tahun): Pembesaran testis awal.
- Tahap 3 (11–13 tahun): Pertumbuhan cepat, suara mulai berubah.
- Tahap 4 (13–15 tahun): Rambut wajah mulai tumbuh.
- Tahap 5 (15–17 tahun): Perkembangan fisik mendekati dewasa.
Pada anak-anak kadang ditemuka variasi dalam tahap-tahapan tersebut. Perlu ditekankan bahwa variasi antar anak adalah hal yang normal.
Tantangan Remaja Laki-Laki di Indonesia
Tekanan Teman Sebaya
Remaja sering membandingkan perkembangan fisiknya dengan teman sebaya. Jika pubertas datang lebih lambat atau lebih cepat, yang berimplikasi pada perbedaan perkembangan fisiknya, bisa menyebabkan anak tersebut merasa minder.
Pengaruh Media Digital
Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menunjukkan lebih dari 90% remaja Indonesia telah mengakses internet (Kominfo, 2023). Akses ini membawa peluang sekaligus tantangan.
Paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi persepsi tentang tubuh dan maskulinitas. Selain itu, paparan konten yang tidak terverifikasi secara ilmiah dan tidak bisa di pertanggung jawabkan bisa memberikan persepsi yang salah terhadap pemahaman remaja tentang pubertas.
Perubahan Citra Diri
Perubahan fisik yang cepat kadang membuat anak merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Kadang beberapa anak merasa risih dengan perubahan fisik yang dialami.
Peran Orang Tua dalam Konteks Budaya Indonesia
Membangun Komunikasi Terbuka
Dalam budaya Indonesia, pembahasan pubertas sering dianggap tabu. Padahal, komunikasi terbuka sangat penting.
Tips memulai percakapan:
- Gunakan momen alami misalnya saat anak bertanya khususnya terkait dengan tumbuh kembang.
- Gunakan bahasa ilmiah yang sederhana dan mudah dimengerti oleh remaja seusianya.
- Hindari nada menghakimi, menyalahkan atau ekspresi yang bisa diartikan negatif oleh anak.
Peran orang tua saat pubertas sangat krusial dalam membentuk rasa aman anak.
Edukasi Kesehatan yang Tepat
Orang tua perlu mengajarkan:
- Kebersihan diri seperti mandi teratur, mengganti pakaian bersih, bercukur, perawatan area pribadi, menjaga penampilan, dan lainnya.
- Nutrisi seimbang, konsumsi makanan yang sehat dan bergizi terutama yang tinggi protein, termasuk menghindari makanan tinggi lemak dan makanan olahan.
- Aktivitas fisik rutin dan berolahraga teratur akan mengoptimalkan perkembangan fisik selama fase pubertas.
Menurut SKI 2023, prevalensi overweight pada remaja meningkat. Pola makan tinggi gula dan rendah aktivitas fisik menjadi faktor risiko.
Menjadi Role Model
Anak laki-laki sering meniru figur ayah atau laki-laki dewasa di sekitarnya. Sikap positif terhadap tubuh dan emosi akan membantu anak mengembangkan maskulinitas yang sehat. Jika ayah mencontohkan kebiasaan yang baik dan benar, pola hidup yang baik, khususnya dalam menjaga Kesehatan maka biasanya remaja akan mengikutinya.
Kapan Perlu Konsultasi Medis?
Orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika:
- Pubertas muncul sebelum usia 9 tahun (pubertas dini).
- Tidak ada tanda pubertas setelah usia 14 tahun.
- Anak mengalami gangguan emosional berat.
- Pertumbuhan tinggi badan sangat lambat.
Indonesia telah mengembangkan layanan kesehatan ramah remaja di Puskesmas melalui program PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja). Akses layanan ini penting untuk memastikan deteksi dini gangguan tumbuh kembang.
Strategi Mendukung Anak Melewati Pubertas dengan Sehat
Beberapa langkah praktis:
a. Pola Hidup Sehat
- Konsumsi protein cukup
- Batasi konsumsi gula dan makanan olahan berlebih
- Olahraga teratur dan terukur, 60 menit per hari
b. Dukungan Emosional
- Dengarkan cerita, keluhatan, ataupun curhatan anak tanpa menghakimi
- Validasi perasaan anak dan berikan dukungan emosional yang menguatkan
c. Literasi Digital
- Diskusikan penggunaan internet yang sehat dan pentingnya menscrening informasi yang beredar di dunia maya
- Dampingi aktivitas online, berikan arahan agar menghindari situs situs yang berbahaya dan mengandung konten yang tidak pantas.
d. Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
- Ikut serta dalam edukasi kesehatan sekolah
- Komunikasi dengan guru BK bila perlu
Investasi pada kesehatan remaja berarti investasi pada pembangunan SDM Indonesia.
Kesimpulan
Pubertas pada anak laki-laki adalah fase alami yang dipengaruhi hormon pubertas dan berbagai faktor lingkungan. Perubahan fisik dan emosional adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang.
Peran orang tua saat pubertas sangat strategis dalam membantu anak memahami dirinya. Edukasi berbasis ilmu, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional akan membentuk generasi yang sehat dan percaya diri.
Kesehatan remaja hari ini adalah fondasi kemajuan bangsa di masa depan.
Referensi :
- Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023. BPS.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Puberty: Adolescent development. CDC.
- Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall textbook of medical physiology (14th ed.). Elsevier.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023. Kemenkes RI.
- National Institutes of Health. (2022). Puberty and adolescent development. NIH.
- Tortora, G. J., & Derrickson, B. (2021). Principles of anatomy and physiology (16th ed.). Wiley.
- World Health Organization. (2022). Adolescent mental health. WHO.
- Buku Tumbuh Kembang Anak Indonesia (Edisi terbaru). (2022). IDAI.

Posting Komentar