Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Fungsi Epididimis Pada Reproduksi Pria

Epididmis merupakan organ yang berperan penting dalam sistem reproduksi pria. Epididimis merupakan penampungan dan penyimpanan spermatozoa setelah meninggalkan testis. Secara umum epididimis memiliki fungsi utama, yaitu transportasi, pemekatan (konsentrasi), pematangan dan penyimpanan spermatozoa. Duktus-duktus epididimis melaksanakan beberapa fungsi penting tersebut. Setiap bagian epididimis mengekspresikan protein-protein yang spesifik dengan fungsi khusus, yang selanjutnya berperan penting dalam penyediaan lingkungan esensial bagi pematangan spermatozoa.


Struktur dan Fungsi Sel Epididimis

Berdasarkan perbedaan histologis dan struktur, Epididmis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian caput (kepala), corpus (badan) dan bagian cauda (ekor). Setiap bagian memilik fungsi yang spesifik. Caput dan corpus epididimis berfungsi sebagai tempat pematangan awal dan akhir spermatozoa. Sedangkan bagia cauda berfungsi sebagai tempat penyimpanan spermatozoa yang matang.

Duktus efferent tersusun dari sel bersilia dan yang tidak bersilia. Setidaknya terdapat lima jenis sel penyusun tubulus yang berbeda bentuk dan tinggi selnya. Sel sel ini bersifat resorptif yang mengatur konsentrasi air dan ion dalam tubulus, dan diperkirakan memiliki peran sekretoris.

Epididmis merupakan derivat dari duktus wolffi dan pada saat dilahirkan, epididimis didominasi oleh jaringan mesenkim. Selain itu, epididmis juga mengalami perubahan termasuk perpanjangan dan konvulsi duktus.

Pada saat pubertas, epididmis mengalami diferensiasi seperti pertumbuhan sel-sel epitel di sepanjang tubulus. Dimana pertumbuhan dan perkembangan ini bukan hanya dipengaruhi oleh level androgen, tapi juga oleh faktor-faktor luminal testis.

Epididimis juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan spermatozoa yang penting. Hal ini disebabkan karena spermatozoa yang terkemas rapat relatif inaktif dan kebutuhan metabolit mereka juga rendah. Spermatozoa dapat disimpan dalam duktus deferens selama beberapa hari walaupun tidak mendapat pasokan nutrisi dari darah dan hanya mendapat makanan dari glukosa sederhana yang terdapat disekresi tubulus.

Selain pematangan dan penyimpanan, epididimis juga memekatkan spermatozoa beberapa ratus kali lipat dengan menyerap sebagian besar cairan yang masuk dari tubulus seminiferus. Spermatozoa yang telah matang secara perlahan bergerak melintasi epididimis ke dalam duktus deferens akibat kontraksi ritmik otot polos di dinding saluran-saluran tersebut.

Pematangan Spermatozoa di dalam epidimis

Sewaktu meninggalkan testis, spermatozoa belum mampu bergerak atau membuahi atau belum matang secara fisiologis. Spermatozoa memperoleh kedua kemampuan tersebut selama perjalanannya melintasi epididimis. Proses pematangan ini dirangsang oleh testosteron yang tertahan di dalam cairan tubulus oleh protein pengikat Androgen (Androgen Binding Protein).

Spermatozoa yang di produksi di tubulus seminiferus bersama cairan yang disekresikan oleh sel sertoli mengalir melalui tubuli recti kedalam rongga rete testis. Selanjutnya masuk ke duktus eferen testicular (12-18 buah) dimana tempat absorbsi cairan terjadi. Duktus eferen bergabung membentuk globus mayor epididymis (caput epididymis) yang akhirnya bersatu membentuk tubulus tunggal epididymis.

Duktus  epididimis bergulung menjadi lobulus yang membentuk epididimis secara utuh. Berbeda dengan spesies lain, epididimis manusia tidak menampakan batas yang jelas antara regio caput, korpus dan cauda. Total panjang tubulus pada mausia adalah 5-6 m.

Epididimis memiliki epitel pseudostratified, yang terdiri dari kumpulan sel dengan panjang bervariasi dimana umumnya lebih pendek pada bagian distal. Sel-sel ini memelihara lingkungan mikroskopik yang unik sehingga sperma dapat bertahan selama lebih dari 2 minggu di dalam saluran ini. Waktu bagi spermatozoa untuk melewati epididimis antara 2 – 11 hari, tergantung pada durasi pengeluaran sperma testis. Pada organ ini spermatozoa matang disimpan sebelum ejakulasi.

Pematangan spermatozoa manusia meliputi peningkatan motilitas progresif, perubahan pola gerak, dan ferubahan morfologis flagel. Selama periode transit di dalam epididmis, spermatozoa juga menggalami perubahan ukuran, ketajaman, dan struktur internal akrosom. Selain itu, membran spermatozoa mengalami remodeling yang konstan dengan perubahan sejumlah molekul.

Sekresi dan Absorbsi Epididimis

Fungsi epitel mencakup resorbsi air di saluran eferen, hal ini didorong oleh penyerapan ion Na+ yang di picu androgen, dan sekresi komponen yang memodifikasi lingkungan epididimis untuk pematangan dan pemeliharaan spermatozoa sebelum di ejakulasikan. Penyerapan cairan menyebabkan sperma terkonsentrasi di lumen epididimis. Selain absosorbsi, epididimis juga mensekresikan zat yang menyebabkan perubahan pada sperma matang yang tidak di ejakulasikan terlalu lama. Namun sedikit yang diketahui tentang detail sekresi ini dan prosesnya pada manusia.

Tiga molekul dengan berat yang ringan disekresikan dengan konsentrasi tinggi di dalam epididimis, yaitu: 1) L-carnitine, yang tidak disintesis di epididimis tapi terkonsentrasi berasal dari pembuluh darah, 2) myo-inositol, yang dibawa dan disintesis oleh epitelium epididymal, dan 3) glycerophosphospocholine (GPC), yang disintesis dari liporotein yang bersirkulasi dan mungkin dari sel sperma sendiri. Molekul ini memiliki osmolalitas organik dan berperan dalam penyimpanan sperma di epididimis dan membantu bertahan hidup dalam organ reproduksi wanita saat konsepsi.

Epididimis juga merupakan organ yang kaya molekul dan protein yang dibutuhkan untuk  meregulasi pematangan spermatozoa. Molekul-molekul tersebut adalah CRISP1, SPAG11e, DEFB126, carbonyl reductase P34H, CD52, dan GPR64. Selain itu, didalam epididimis terdapat family gen proteinase dan inhibotor yang berperan penting dalam mengatur regulasi pematangan spermatozoa.

Molekul CRISP1 berperan penting pada fusi gamet melalui interaksinya dengan permukaan sel telur. Hasil penelitian menunjukan bahwa selama transit di epididmis, CRISP1 terekspresi pada permukaan spermatozoa. Selain itu CRISP1 juga diduga berperan pada interaksi awal spermatozoa dengan sel telur.

Molekula SPAG11e (Sperm Associated antigen 11) berkaitan erat dengan beta defensin dan berperan penting pada pertahanan spermatozoa.

Molekul carbonyl reductase P34H berperan penting dalam ikatan spermatozoa dengan zona pelusida. Hasil penelitian dengan menggunakan anti carbonyl Reductase P34H secara in vitro menyebabkan terhambatnya ikatan antara spermatozoa dan zona pelusida. Selain itu penelitian lain menunjukan bahwa defisiensi carbonyl Reductase P34H pada permukaan spermatozoa berhubungan dengan terjadinya infertilitas idiopatik pada pria.

Molekul CD52 teridentifikasi berperan dalam mobilisasi spermatozoa. ,olekul ini terekspresi pada epididmis bagian distal dan vas deverens. Penelitian menunjukan bahwa ketiadaan molekul ini bisa menyebabkan terganggunya mobilisasi dan inhibisi antara spermatozoa dan sel telur pada zona binding.

Molekul DEFB126 (Beta defensin 126), dikenal sebagai protein sekretori pada epididimis. Protein ini berperan melapisi seluruh permukaan spermatozoa hingga berakhirnya proses kapasitasi. Defensin juga bersifat antimikroba debagai salah satu proteksi imun bagi spermatozoa ketika berada dalam saluran reproduksi wanita setelah ejakulasi.

Molekul GPR64 berperan penting dalam proses reabsorbsi cairan dalam duktus eferens dan epididimis. Gangguan gen GPR64 menyebabkan terjadinyan gangguan regulasi reabsorbsi sehingga menyebabkan penumpukan cairan di dalam testis yang berdampak terhadap statisnya spermatozoa di dalam duktus.


Zul Hendry , Ners., M.Kep
Zul Hendry , Ners., M.Kep Dosen Tetap Program Studi Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Fungsi Epididimis Pada Reproduksi Pria"