Pendahuluan
Di berbagai belahan dunia, kesehatan generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Organisasi Kesehatan Dunia, atau World Health Organization (WHO), menegaskan bahwa kesehatan remaja dan dewasa muda merupakan dasar bagi pembangunan berkelanjutan. Dalam salah satu laporannya, WHO menyatakan bahwa kebanyakan faktor risiko penyakit tidak menular bermula sejak usia muda dan pola hidup yang terbentuk pada fase ini memengaruhi kesehatan seumur hidup.
![]() |
| image from pxhere.com |
Laporan UNICEF juga menunjukkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi “triple burden”: kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan meningkatnya tantangan kesehatan mental. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan masih adanya masalah stunting pada anak dan remaja, serta peningkatan prevalensi obesitas dan kasus gangguan emosional pada kelompok usia sekolah dan mahasiswa.
Gaya hidup sedentari akibat transformasi digital, paparan gawai berlebihan, dan meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses memperbesar risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik sejak usia muda. Laporan World Bank bahkan menegaskan bahwa kualitas kesehatan generasi muda sangat memengaruhi produktivitas ekonomi suatu negara di masa depan.
Mengapa isu ini penting? Karena generasi muda hari ini adalah tenaga kerja, pemimpin, inovator, dan penggerak ekonomi di masa depan. Tanpa intervensi yang sistematis dan terintegrasi, bonus demografi dapat berubah menjadi beban demografi. Oleh karena itu, strategi nasional peningkatan kesehatan generasi muda bukan hanya agenda kesehatan tetapi juga agenda pembangunan bangsa.
Kerangka Konseptual: Generasi Muda sebagai Human Capital
Perspektif Kesehatan Masyarakat
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, generasi muda bukan hanya sekelompok usia, tetapi juga investasi penting. Konsep human capital memandang kesehatan sebagai modal dasar untuk produktivitas. Individu yang sehat secara fisik dan mental lebih mampu belajar, bekerja, dan berinovasi.
WHO (2020) menegaskan bahwa investasi pada kesehatan remaja memberikan “triple dividend”: manfaat langsung saat ini, manfaat di masa dewasa, dan manfaat bagi generasi berikutnya. Artinya, intervensi kesehatan pada usia muda akan memberikan efek jangka panjang lintas generasi.
Investasi Demografi
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Namun, bonus ini hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi jika didukung oleh kualitas kesehatan yang baik. World Bank (2019) menekankan bahwa tanpa peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan, bonus demografi tidak akan otomatis menghasilkan kemajuan ekonomi.
Pendekatan Promotif dan Preventif
Strategi promotif dan preventif menjadi kunci. Pendekatan kuratif saja tidak cukup. Program promosi kesehatan, edukasi gizi, aktivitas fisik, dan deteksi dini risiko penyakit harus diperkuat sejak usia sekolah.
Teori Determinan Sosial Kesehatan
Kerangka determinan sosial kesehatan menjelaskan bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, tetapi juga oleh lingkungan sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Ketimpangan akses pendidikan, kemiskinan, urbanisasi cepat, serta perubahan pola konsumsi turut membentuk risiko kesehatan generasi muda.
Tantangan Utama Kesehatan Generasi Muda
Malnutrisi dan Double Burden of Disease
Banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi double burden of malnutrition—baik kekurangan gizi maupun kelebihan berat badan dalam populasi yang sama. UNICEF (2021) menyatakan bahwa remaja di negara berkembang rentan mengalami anemia, kekurangan mikronutrien, dan peningkatan obesitas akibat pola makan tinggi gula dan lemak.
Riset global dalam The Lancet Commission on Adolescent Health (2016; diperbarui dalam berbagai publikasi terbaru) menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi makanan ultra-proses mempercepat risiko obesitas pada usia remaja.
Kesehatan Mental Remaja
WHO (2021) memperkirakan bahwa satu dari tujuh remaja di seluruh dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Pandemi memperburuk situasi dengan isolasi sosial dan ketidakpastian ekonomi. Di Indonesia, survei dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan gejala kecemasan dan depresi ringan pada kelompok usia muda.
UNICEF (2021) dalam laporan State of the World’s Children menyebutkan: “Mental health is an integral part of health and well-being for young people.” Namun, stigma dan keterbatasan layanan menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi.
Penyakit Tidak Menular Usia Muda
Menurut WHO (2022), faktor risiko penyakit tidak menular seperti kurang aktivitas fisik, konsumsi gula berlebihan, dan merokok sering muncul sebelum usia 20 tahun. Penyakit seperti diabetes tipe 2 kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif muda.
Kurangnya Aktivitas Fisik
Laporan WHO (2019) menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian. Urbanisasi, terbatasnya ruang terbuka hijau, dan dominasi aktivitas digital memperburuk kondisi ini.
Paparan Digital Berlebihan
Digitalisasi memberikan manfaat edukatif, tetapi juga risiko: gangguan tidur, penurunan konsentrasi, dan perilaku sedentari. Studi dalam Journal of Adolescent Health (2018–2023) menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dan peningkatan risiko gangguan emosional ringan hingga sedang.
Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan
World Bank dan UNICEF menyoroti bahwa ketimpangan geografis dan sosial memengaruhi akses layanan kesehatan remaja. Di daerah terpencil, layanan ramah remaja masih terbatas. Di perkotaan, layanan ada tetapi belum selalu inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan usia muda.
Pilar Strategi Nasional
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan strategi nasional berbasis pilar berikut:
Pilar 1: Penguatan Kebijakan Promotif-Preventif
Kebijakan nasional harus menempatkan promosi kesehatan sebagai prioritas utama. Regulasi untuk membatasi iklan makanan tidak sehat untuk anak, kampanye gizi seimbang, dan kebijakan ruang publik ramah aktivitas fisik perlu diperluas.
Contoh implementasi: program sekolah sehat terpadu dengan indikator gizi, kebugaran, dan kesehatan mental.
Pilar 2: Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Kurikulum Nasional
Pendidikan kesehatan tidak boleh menjadi pelengkap. Materi tentang gizi, aktivitas fisik, kesehatan mental, dan literasi digital harus terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum nasional.
Pendekatan life skills education terbukti efektif dalam membangun perilaku sehat jangka panjang (WHO, 2020).
Pilar 3: Penguatan Layanan Kesehatan Berbasis Sekolah
Unit Kesehatan Sekolah (UKS) perlu direvitalisasi. Deteksi dini anemia, skrining indeks massa tubuh, serta konseling psikososial harus menjadi bagian rutin.
Kolaborasi dengan Puskesmas penting untuk rujukan dan pendampingan.
Pilar 4: Transformasi Layanan Primer Ramah Remaja
Puskesmas dan klinik primer harus menyediakan layanan yang ramah remaja. Layanan tersebut harus mudah diakses, tidak menghakimi, dan menjaga kerahasiaan. WHO merekomendasikan model layanan kesehatan ramah remaja sebagai standar global.
Pilar 5: Digital Health Literacy
Generasi muda hidup dalam ruang digital. Alih-alih membatasi secara ekstrem, strategi nasional perlu membekali mereka dengan literasi digital kesehatan: kemampuan untuk menyaring informasi, memahami risiko, dan menggunakan teknologi untuk kebugaran.
Contoh: aplikasi pemantauan aktivitas fisik dan kampanye edukasi melalui media sosial resmi pemerintah.
Pilar 6: Kolaborasi Lintas Sektor
Kesehatan generasi muda bukan hanya urusan sektor kesehatan. Pendidikan, olahraga, perumahan, media, dan swasta harus terlibat.
Model Health in All Policies menjadi pendekatan penting agar setiap kebijakan mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan.
Pilar 7: Pendekatan Berbasis Komunitas dan Budaya Lokal
Program nasional harus sensitif terhadap konteks lokal. Kearifan lokal, organisasi kepemudaan, dan tokoh masyarakat dapat menjadi agen perubahan perilaku sehat.
Peran Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan
Institusi pendidikan tinggi kesehatan memiliki posisi strategis.
Kontribusi Riset
Perguruan tinggi dapat menghasilkan data lokal tentang tren gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan mental mahasiswa serta remaja di sekitar kampus.
Pengabdian Masyarakat
Program pengabdian berbasis sekolah dan komunitas dapat memperkuat literasi kesehatan generasi muda.
Inovasi Kebijakan Berbasis Data
Akademisi dapat menjadi mitra pemerintah dalam menyusun kebijakan yang berbasis bukti.
Mencetak Calon Manajer Kesehatan
Mahasiswa kesehatan masyarakat, keperawatan, dan profesi kesehatan lainnya perlu dibekali dengan kompetensi kepemimpinan, advokasi, dan analisis determinan sosial kesehatan.
Refleksi Strategis
Kesehatan generasi muda adalah investasi jangka panjang. Kebijakan berbasis bukti harus menjadi arus utama. Data dari WHO dan UNICEF secara konsisten menunjukkan bahwa intervensi dini lebih murah dan lebih efektif daripada penanganan komplikasi di usia dewasa.
Kepemimpinan kebijakan yang visioner diperlukan untuk memastikan strategi ini berkelanjutan dan bukan hanya program jangka pendek.
Kolaborasi nasional menjadi kata kunci. Pemerintah, perguruan tinggi, keluarga, komunitas, dan sektor swasta harus bergerak bersama.
Penutup
Strategi nasional untuk meningkatkan kesehatan generasi muda bukan hanya agenda kesehatan tetapi juga strategi pembangunan bangsa. Dengan pendekatan promotif dan preventif, integrasi pendidikan, layanan ramah remaja, literasi digital, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat memaksimalkan bonus demografi.
Kita memiliki peluang besar untuk membentuk generasi yang sehat, produktif, dan tangguh. Investasi yang dilakukan hari ini akan menentukan masa depan Indonesia.
Saatnya bergerak bersama, berbasis data, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang.
Referensi:
- World Health Organization. (2019). Global action plan on physical activity 2018–2030. WHO.
- World Health Organization. (2020). Adolescent health. WHO.
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. WHO.
- World Health Organization. (2022). Noncommunicable diseases fact sheet. WHO.
- UNICEF. (2021). The state of the world’s children 2021. UNICEF.
- World Bank. (2019). Human capital project report. World Bank.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil kesehatan Indonesia. Kemenkes RI.
- Patton, G. C., et al. (2016–2021 updates). Our future: A Lancet commission on adolescent health. The Lancet.
- Guthold, R., et al. (2019). Global trends in insufficient physical activity among adolescents. The Lancet Child & Adolescent Health.
- Odgers, C., & Jensen, M. (2020). Annual research review: Adolescent mental health in the digital age. Journal of Child Psychology and Psychiatry.


Posting Komentar