Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Kanker Payudara

Bersama dengan kanker paru-paru, Kanker payudara  merupakan salah satu penyakit yang paling banyak membunuh wanita barusia 35 sampai 54 tahun. Kanker ini muncul pada pria namun jarang. Keseluruhan tingkat kematian akibat Ca.Mamae dari wanita sudah berkurang.

Keterlibatan nodus limfa adalah prediktor prognostik yang paling berharga. Dengan terapi adjuvan, 70% sampai 75% wanita yang mempunyai nodus negatif bisa bertahan hidup selama 10 tahun atau lebih, bandingkan dengan 20% sampai 25% wanita yang mempunyai nodus positif. 

Kanker Payudara bisa berkembang kapan saja setelah masa pubertas, namun biasanya rnuncul setelah penderita berusia 50 tahun.

Kanker Payudara lebih sering menyerang Payudara kiri daripada kanan dan lebih sering menyerang kuadran kiri atas dengan pertumbuhannya bervariasi. Secara teori  kanker payudara yang berkembang bisa membutuhkan waktu 8 tahun bisa palpasi saat berukuran 1 cm ini menyebar melalui sistem limfatik dan aliran darah, melalui sisi kanan dari jantung ke paru-paru dan akhirnya ke payudara yang lain, dinding dada, hati, tulang, dan otak. 

Gambar by Cancer Research UK uploader from: wikimedia.org

Kanker Payudara bisa diklasifikasikan menurut tampilan histologis dan lokasi lesinya: 

  • Adenokarsinoma - muncul dari epitelium 
  • Intraduktal - berkembang di dalam duktus (termasuk penyakit Paget) 
  • Infiltrasi - muncul di Jaringan parenkimatosa payudara
  • Inflamatorik (jarang) - tumor yang tumbuh cepat, kulit yang menutupinya menjadi edematosa, terinfiamasi, dan mengalami indurasi (pengerasan) 
  • Karsinoma lobular in situ - melibatkan lobus jaringan glandular 
  • Medular atau terbatas - tumor besar yang tumbuh cepat 

Penyebab 

Tidak diketahui, estrogen dikaitkan dengan insidensi tinggi pada wanita 

Faktor risiko 

  • Kanker endometrial atau ovarian 
  • Terapi estrogen, antihipertensif, makanan kaya-lemak, obesitas, dan dis fibrosistik 
  • Paparan radiasi ion tingkat-rendah 
  • Riwayat kanker payudara di keluarga 
  • Kehamilan pertama setelah usia 31 tahun 
  • Menstruasi yang lama; mulai menstruasi lebih awal atau menopause terlambat 
  • Tidak pernah hamil 
  • Kanker payudara unilateral 

Berisiko lebih kecil 

  • Hamil sebelum berusia 20 tahun 
  • Kehamilan multipel 
  • Berkewarganegaraan India atau Asia 

Tanda dan gejala 

  • Bongkahan atau gumpalan di payudara, gumpalan keras dan berbatu biasanya ganas. 
  • Perubahan kesimetrisan atau ukuran payudara
  • Perubahan di kulit payudara, kulit menebal dan bersisik di sekitar puting, lekukan, edema, atau ulserasi.
  • Perubahan suhu kulit seperti hangat, panas, atau area merah-muda,  kanker diduga ada pada wanita yang melewati usia hamil namun tidak nenyusui sampai terbukti sebaliknya. 
  • Drainase atau keluaran yang tidak lazim, keluaran apa pun secara spontan pada wanita yang tidak menyusui bisa membenarkan adanya kanker melalui pemeriksaan. Begitu pula dengan keluaran apa pun yang dihasilkan, kehijauan, hitam, putih, seperti krim, serosa, atau berdarah. Jika bayi yang sedang disusui menolak satu payudara, hal ini bisa menunjukkan adanya kanker payudara. 
  • Perubahan puting, misalnya gatal, seperti terbakar, erosi, atau retraksi 
  • Nyeri tidak selalu merupakan gejala Kanker payudara kecuali tumor sudah parah, namun sebaiknya diperiksa. 
  • Metastasis tulang, fraktur tulang patologis, dan hiperkalsemia 
  • Edema di lengan. 

Uji diagnostik 

  • Walaupun tidak terbukti menurunkan mortalitas, pemeriksaan diri terhadap payudara bisa mendeteksi adanya bongkahan palpabel, sehingga memungkinkan wanita menemui praktisi untuk mendapatkan evaluasi dini.
  • Mamografi dilakukan untuk tiap wanita yang pemeriksaan fisiknya menunjukkan adanya kanker payudara. Mamografi sebaiknya dilakukan sebagai pemeriksaan dasar pada wanita berusia 35 sampai 39 tahun, tiap 1 sampai 2 tahun untuk wanita berusia 40 sampai 49 tahun, dan tiap tahun untuk wanita yang berusia lebih dari 50 tahun, wanita yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarganya, dan wanita yang menderita kanker payudara unilateral, untuk memeriksa adanya penyakit baru. 
  • Akan tetapi, nilai mamografi masih meragukan untuk wanita yang berusia kurang dari 35 tahun (karena kepadatan payudara), kecuali wanita yang diduga kuat menderita kanker payudara. Hasil keliru-negatif bisa muncul di 30% dari semua uji.
  • Aspirasi jarum-tajam atau biopsi dengan pembedahan dilakukan jika diduga ada gumpalan dan hasil mamografi negatif.
  • Ultrasonografi, yang bisa membedakan kista berisi-cairan dengan tumor, juga bisa dipakai daripada biopsi bedah invasif.
  • Scan tulang, computed tomography scan, pengukuran kadar alkalin fosfatase, studi fungsi hati, dan biopsi hati bisa mendeteksi metastasis yang jauh. 
  • Pengujian assay reseptor hormonal yang dilakukan pada tumor bisa menentukan apakah tumor dependen pada estrogen atau progesteron. Uji ini memandu pengambilan keputusan untuk menggunakan terapi yang merintangi tindakan hormon estrogen yang mendukung pertumbuhan tumor.

Penanganan 

Dalam memilih terapi, pasien dan praktisi sebaiknya mempertimbangkan stadium penyakit, usia wanita dan status menopausalnya, dan efek pembedahan yang bisa memperburuk tampilan tubuh. Penanganan kanker payudara bisa meliputi satu atau kombinasi apa pun dari cara-cara berikut. 

Pembedahan 

  • Lumpektomi bisa dilakukan bagi pasien rawat jalan dan mungkin merupakan satu-satunya pembedahan yang diperlukan, ter-utama jika tumor kecil dan tidak ada bukti keterlibatan nodus aksilari.Terapi radiasi biasa-nya dikombinasikan dengan pembedahan ini.
  • Prosedur dua-tahap, yaitu saat dokter bedah mengambil gumpalan, memastikan bahwa ini ganas, dan mendiskusikan pilihan penanganan dengan pasien, bisa dilakukan karena memungkinkan pasien berpartisipasi  di rencana penanganannya.  Kadang-kadang,  turnor didiagnosis ganas, perencanaan semacam ini bisa dilakukan sebelum operasi. 
  • Daiam lumpektomi dan diseksi nodus leafa aksgari, tumor dan nodus limfa aksilari damobel, sehingga memungkinkan payudara tetap utuh. 
  • Masitektomi sederhana mengambil payudara tetapi bukan nodus limfa atau otot pektoral.
  • Masitektomi radikal termodifikasi mengambil payudara dan nodus limfa aksilari.
  • Masitektomi radikal (prosedur yang penggunaannya telah berkurang) bisa mengambil payudara , pektoralis mayor dan minor. dan nodus limfa aksilari
  • Setetah mastektomi, pernbedahan rekonstruktif bisa menciptakan timbunan mamae jika pasien menginginkannya dan tidak terbukti menderita penyakit stadium atas

Kemoterapi, tamoxifen, dan terapi sel induk periferal 

  • Berbagai kombinasi obat sitotoksik digunakan sebagai terapi adjuvan maupun primer. tergantung pada beberapa faktor, antara lain stadium kanker dan status reseptor estrogen positif
  • Neoplastik yang paling sering digunakan adalah cyclophospamide, fluorouracil, methotrexate, doxorubicin, vincistrine, paclitaxel, dan prednisone. 
  • Kombinasi obat umum yang digunakan oleh wanita premenopausal maupun pasimenopausal adalah cyclophospamide, methotrexue, dan fluorouracil.
  • Tamoxfen (Nolvadex), antagonis estrogen, merupakan pilihan penanganan adjuvan bagi ausien postmenopausal dengan status reseptor estrogen positif 
  • Terapi sel induk periferal bisa digunakan untuk pasien yang mengalarni Kanker payudara stadium atas,

Terapi radiasi primer 

  • Terapi ini dilakukan sebelum atau sesudah pengambilan tumor, dan efektif untuk tumor kecil di stadium awal tanpa adanya tanda metastasis jauh. Terapi ini juga digunakan untuk mencegah atau menangani rekurensi lokal.
  • Radiasi sebelum pembedahan pada payudara untuk pasien yang menderita kanker inflamatorik membantu membuat tumor lebih bisa dikelola dengan pembedahan.

Terapi obat lainnya 

  • Pasien juga bisa menggunakan terapi estrogen, progesteron, androgen, atau antiandrogen aminoglutetimida. Jika terbukti kanker merupakan penyakit sistemik, bukan lokal, keberhasilan terapi obat ini telah mengurangi penggunaan pembedahan ablatif.

Intervensi  Asuhan Keperawatan 

Untuk memberikan perawatan yang baik bagi pasien kanker payudara, mulailah dengan riwayat, kaji perasaan pasien mengenai penyakitnya, dan tentukan apa yang ia ketahui tentangnya dan apa yang ia harapkan. 

Intervensi Asuhan Keperawatan Sebelum pembedahan 

  • Pastikan Anda mengetahui jenis pembedahan apa yang akan dilakukan, sehingga Anda bisa mempersiapkan pasien. Jika pasien akan menjalani mastektomi, selain persiapan sebelum pembedahan seperti biasanya (misalnya persiapan kulit dan tidak melakukan apa pun dengan mulut), lakukan juga hal-hal berikut ini: 
  • Ajari pasien cara bernapas dalam dan batuk untuk mencegah komplikasi pulmoner dan cara merotasi pergelangan kakinya untuk mencegah tromboembolisme
  • Beri tahu pasien bahwa ia bisa meringankan nyeri dengan berbaring di sisi yang diserang kanker atau dengan menempatkan tangan atau bantal di insisi. Tunjukkan padanya tempat insisi akan dilakukan. Beri tahu ia bahwa ia akan diberi medikasi pereda nyeri dan bahwa ia tidak perlu takut kecanduan.
  • Jelaskan pada pasien bahwa setelah mastektomi, alat pengaliran atau pengisapan insisional (Hemovac) akan digunakan untuk mengambil cairan serosa atau sanguinosa yang terakumulasi untuk menjaga tensi garis sutura, sehingga mempercepat penyembuhan. 
  • Sarankan pasien bertanya pada praktisinya mengenai pembedahan rekonstruktif atau menghubungi dokter bedah rekonstruktif plastik di perkumpulan medis lokal atau negara-bagian yang secara teratur melakukan pembedahan untuk menciptakan timbunan mamae. Di banyak kasus, pembedahan rekonstruktif bisa direncanakan sebelum mastektomi.

Intervensi Asuhan Keperawatan Setelah pembedahan 

  • Periksa pembalut secara anterior dan posterior.Waspadai pendarahan.
  • Ukur dan catat banyaknya drainase dan perhatikan warnanya. Drainase seharusnya berdarah selama 4 jam pertama dan setelah itu menjadi serosa. 
  • Periksa status sirkulatorik (tekanan darah, denyut nadi, respirasi, dan pendarahan). 
  • Pantau asupan dan output pasien selama setidaknya 48 jam setelah ia diberi anestesia umum. 
  • Minta pasien batuk dan balikkan badannya tiap 2 jam untuk mencegah komplikasi. (Letakkan bantal kecil di bawah lengan pasien untuk memberi kenyamanan.) 
  • Dorong pasien bangun dari ranjangnya sesegera mungkin (bahkan segera setelah anestesia hilang di malam pertama setelah pembedahan). 
  • Cegah limfedema lengan, yang bisa merupakan komplikasi awal dalam penanganan kanker payudara apa pun dan melibatkan diseksi nodus limfa. Bantu pasien mencegah limfedema dengan meminta ia melakukan latihan tangan dan lengan secara teratur dan menghindari aktivitas yang bisa menyebabkan infeksi di tangan atau lengannya (infeksi meningkatkan peluang berkembangnya limfedema). Pencegahan semacam ini penting karena limfedema tidak bisa ditangani secara efektif.
  • Periksa insisi. Minta pasien dan pasangannya melihat insisi sesegera mungkin, barangkali ketika pembalut pertama diambil. 
  • Beri tahu pasien mengenai prostesis (pengganti) mamae. Program Reach to Recovery dari Himpunan Kanker Amerika bisa memberikan instruksi, dukungan emosional dan konseling, dan daftar toko yang menjual prostesis. 
  • Beri dukungan psikologis dan emosional. Banyak pasien takut terhadap kanker dan kemungkinan menjadi cacat dan khawatir kehilangan fungsi seksualnya. Jelaskan bahwa pembedahan mamae tidak mengganggu fungsi seksual dan bahwa pasien bisa melakukan aktivitas seksual kembali sesegera mungkin seperti yang ia inginkan setelah pembedahan. 
  • Jelaskan pada pasien bahwa ia mungkin mengalami "sindrom mamae fantom" (fenomena adanya perasaan kesemutan atau sensasi pin-dan-jarum yang tertinggal di area jaringan mamae yang diamputasi) atau depesi setelah mastektomi. Dengarkan keluhan pasien, beri dukungan, dan sarankan ia mengunjugi organisasi yang tepat, misalnya Reach to Recovery dari Himpunan Kanker Amerika. 

Referensi : 

  1. Marry Ann Kosir MD. 2020. Breast Cancer. Wayne State University School of Medicine. MSD Manual
  2. RNpedia. Breast Cancer Nursing Care Plan And Management



Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep
Marthilda Suprayitna, Ners., M.Kep Praktisi dan Dosen Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram

Posting Komentar untuk "Intervensi Asuhan Keperawatan Pada Kanker Payudara"